Blog ini berisi catatan seputar jurnalistik baik fiksi maupun nun fiksi MENYELAMI MIMPI

Kamis, 14 November 2013

Menyoal Hijab Stylish



Membludaknya produksi Hijab Stylish, merupakan tantangan besar bagi umat muslim sekalian, terlebih bagi pemuka agama seperti para kyai dan ulama, untuk mengkaji ulang batasan-batasan dari hijab itu sendiri. Sehingga kemudian tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya, artinya syariat islam yang sudah berlaku tidak serta merta dilepas dan disesuaikan denga trend zaman, namun trend zamanlah yang seharusnya menyesuaikan dengan hukum syariat islam, terlebih kaitannya dengan hijab yang sedang booming saat ini.

Awalnya kata hijab, memang belum akrab ditelinga kita. Kita lebih sering mendengar kata jilbab. Jilbab merupakan salah satu jenis pakaian muslimah yang dipadukan dengan busana muslim atau busana panjang lainnya. Menggunakan jilbab pada dasarnya adalah kewajiban bagi wanita muslim. Meski realitasnya masih banyak wanita muslim yang belum menggunakan jilbab.

Jilbab dari masa ke masa akhirnya mengalami perkembangan bila ditinjau dari segi fashion. Berkat perkembangan inilah, sebutan ‘hijab’ menjadi lebih populer. Hijab memiliki ciri fashion yang lebih kental dibandingkan jilbab pendahulunya. Sebelum berkembangnya dunia mode muslimah dalam 2-3 tahun terakhir, jilbab terkesan lebih sederhana dan apa adanya. Sementara hijab masa kini, tidak butuh waktu lama untuk mengeluarkan kreasi baru, gaya atau motif baru dan trend terbaru. Sehingga keberadaannya perlu dipertanyakan, apakah hijab stylish yang menjadi trend saat ini sudah memenuhi standar syariat islam atau tidak?.

Menurut Al-Quran hijab berarti penutup secara umum. Allah SWT. dalam surat Al Ahzabayat 58 memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW  waktu mereka meminta suatu barang pada istri Nabi SAW untuk memintanya dari balik hijab. Jadi, hijab berarti umum, bisa berupa tirai pembatas. Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau menghalangi dirinya. Hijab berasal dari kata ‘ha-ja-ba’ yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu.

Selain itu, dalam al-Qur’an juga ada istilah khimar. Yaitu sejenis tutup kepala yang mana kain berbentuk segi empat lalu dilipat menjadi segi tiga. Seterusnya diletakkan di atas kepala dan diketatkan di bawah dagu atau kita kenal dengan sebutan kerudung. Kerudung memiliki definisi yang hampir sama dengan jilbab. Tapi tidak sama. Jilbab memiliki arti yang lebih luas. Sedangkan Khimar itu (kerudung) hanya tudung yang menutupi kepala hingga dada saja. Sama halnya seperti Jilbab, kerudung ini hukumnya wajib.

Pada hakikatnya, istilah jilbab bukan hanya milik islam saja. Tepatnya kerudung, berbagai macam kaum dengan keyakinan yang berbeda-beda juga mengenakan kerudung. Hanya saja konsepnya berbeda, meskipun diantaranya ada yang mirip bahkan persis. Seperti kerudung menurut ajaran Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Biarawati Budha, Biarawati Ortodok, Biawarawati Katolik dan lain sebagainya. Inilah kemudian yang menjadi dilema terhadap maraknya hijab stylish. Banyak dari mereka produsen busana islami, yang mendesign hijab sedemikian rupa untuk menarik konsumen, tanpa harus memperhatikan hijab yang berdasarkan standar syariat islam, semuanya seakan berujung pada profit oriented.

Salah satu contoh hijab yang trend saat ini adalah memakai kerudung dengan menampakkan bentuk leher, ini merupakan trend kerudung yang menyamai kerudung Biarawati kristian, selain itu ada hijab yang kerudungnya sudah rapi, tapi busana yang dikenakan kebawahnya serba ketat dan condong menampakkan bentuk aurat tubuhnya alias minimalis. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi tentang 2 golongan dari penduduk Neraka yang tidak pernah beliau lihat pada zamannya ternyata benar 2 golongan itu muncul pada zaman ini, yaitu : Pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia. Kedua para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggaklenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya tercium dari perjalanan sekian dan sekian (Lihat Hadits Shohih Muslim No. 2128)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hijab dan khimar mempunyai perbedaan tersendiri, kalau hijab sifatnya umum (menyeluruh) sedengkan kalau khimar khusus (tidak menyeluruh/sebagian). Inilah yang seringkali terjadi salah kaprah dikalangan masyarakat kita saat ini, mereka banyak beranggapan bahwa hijab adalah khimar (kerudung), padahal kenyataannya bukan. Sehingga kemudian banyak dikalangan hijabers yang mengklaim bahwa dengan berkhimar (berkerudung) sudah cukup untuk menghijab dirinya. Trend hijab stylish yang condong minimalis, inilah yang perlu kita koreksi ulang, sehingga para hijabers tidak serta-merta tampil bergaya dan trendy dengan berbagai jenis mode hijab yang ada, tanpa harus memperhatikan hijab yang sebenarnya (versi syariat islam).(*)

dimuat di Buletin KAMAL Edisi 23

Rabu, 30 Oktober 2013

Hikmah di Balik Sabar


Sabar dalam arti yang lumrah dikenal adalah menunjukan keteguhan, ketabahan, keuletan, ketahanan diri dan ketegeran jiwa serta tidak takut kehilangan. Sabar sangat berperan penting dalam kaitannya dengan diri manusia, karena sabar merupakan agent of control dari seluruh tindakan manusia itu sendiri.

Kalau peresensi ibaratkan dengan pacuan kuda, sabar adalah tali pengendalinya, tanpa adanya tali pengendali, besar kemungkinan kuda itu bisa lepas landas, bisa jadi terjerumus dalam jurang, dan tidak hanya kudanya saja yang nyungsep dalam jurang tapi pengemudinya juga ikut terjerumus.

Sementara Tallal Alie Turfe dalam buku ini, menguraikan secara lugas hakikat sabar itu. Menurutnya sabar adalah ketika kita mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat keji dan dosa, ketika mampu menaati semua perintah Allah, ketika mampu memegang teguh akidah islam, dan ketika mampu tabah serta tidak mengeluh atas musibah dan keburukan apapun yang menimpa kita (hal. 31)

Pengertian sabar tersebut menunjukan adanya sebuah metode yang melandasi definisi islam. Selain berkait dengan keimanan, syariat dan keutamaan, sabar juga berkait  erat dengan pemahaman-pemahaman ideologi atau orientasi hidup serta persiapan-persiapan mental. Inilah unsur dinamis yang menyiapkan dan mengarahkan muslim untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Allah memerintahkan pada Nabi Muhammad SAW. Untuk mencapai derajat mulia kesabaran, akhlak dan keutamaan. Dalam perintah-Nya ini Allah senantiasa mengingatkan Nabi-Nya tentang berbagai kesulitan dan penderitaan yang dihadapi oleh para Nabi sebelumnya dalam menyampaikan risalah Allah. Hal ini bertujuan agar beliau bersabar (hal. 46)

Tekad kuat seorang mukmin akan selalu berhadapan dengan berbagai ujian. Ketika ia menguasai dirinya secara lahiriah dan batiniah, sabar akan menjadi cahaya petunjuk imannya. Ia akan memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai cobaan dan ujian dengan pikiran yang terbuka, hati yang lapang dan keyakinan yang tinggi (hal. 55)

Oleh sebab itu, perlunya kita memfokuskan perhatian terhadap unsur-unsur daya. Dalam hidup ini kita membutuhkan resep yang tepat untuk mengubah sikap kita yang kurang dan yang berlebih-lebihan. Sikap ini mencul karena kita tidak mampu mengendalikan daya-daya yang tersimpan dalam diri kita, yaitu intelegensia, marah, hasrat, dan imajinasi. Resep yang tepat untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan adalah sikap sabar. Sebab, sikap inilah yang menjadi fondasi dan sumber daya pribadi dan kesehatan jiwa.

Karena faktanya, kebanyakan orang-orang yang gagal mengendalikan kemarahan berada dalam kekacauan jiwa. Mereka tidak memiliki kesabaran dalam mengontrol emosinya dan amarahnya yang eksplosif. Begitu juga orang-orang yang membutuhkan keberanian untuk menghadapi dan menguasai ketakutannya. Di sinilah kesabaran membentuk sikap kerelaan dan penerimaan, atau tegasnya, kepasrahan diri sebagaimana yang dialami oleh kaum miskin korban kapitalisasi (ha. 115)

Diriwatkan bahwa suatu saat Nabi Saw. Bertanya kepada beberapa sahabat tentang derajat keimanan mereka. Lalu, mereka menjawab bahwa diri mereka telah berada dalam tingkat kesabaran untuk menghadapi segala ujian, senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, dan menerima apa pun yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah dan kekuasaan-Nya. Sejak itulah , Nabi Saw. Menyebut mereka sebagai orang-orang yang bijak (hukama’) dan berpengetuan (alimun).

Maka dari itu, kita mesti berusaha keras untuk membentuk karakter kepribadian yang berkualitas. Inilah modal utama yang menegaskan keutamaan sabar sesuai karakter-karakter pilihan. Sebagaimana disebutkan dalam buku ini, yang tidak mesti berurutan. Namun semuanya terkait dan saling mendukung satu sama lain. Sebagai contoh, ketika menjadi mukmin yang suci, Anda mesti kontinu shalat, sedekah dan memperhatikan orang lain. Itulah sebabnya karakter-karakter pilihan menjadi fondasi dalam pembentukan pribadi islami. (hal. 154)

Potret Nabi Ayyub a.s. merupakan teladan kesabaran dan ketabahan yang utama. Dia mampu mengendalikan emosi, kekecewaan, dan kemarahannya. Dia juga mampu mengendalikan pikirannya sehingga tetap bersabar dalam mengahadapi ujian serta bersikap patuh pada kehendak Tuhan. Inilah contoh positif  bagi kebijakan yang sempurna serta sikap rendah hati dan kesyukuran atas nikmat Allah. (hal. 156-160)

Buku ini sangat layak sekali dijadikan pedoman hidup, karena di dalamnya terdapat pemabahasan yang cukup mendalam tentang kesabaran, yang meliputi: sabar dalam perspektif islam, sabar dan akidah islam, sabar dalam syariat islam, filsafat sabar, sabar dan psikologi sosial, teladan-teladan kesabaran dan kepemimpinan islam: teladan kesabaran, semua itu, penulis uraikan dengan menggunakan bahasa yang mengalir dan lugas sehingga pembaca tidak akan pernah merasakan kesulitan dalam memahaminya, serta dilengkapi dengan bagan-bagan dari setiap pokok pembahasan yang terdapat didalamnya.
_____________________________
Judul               : Mukjizat Sabar
Penulis             : Tallal Alie Turfe
Penerbit           : PT Mizan Pustaka
Cetakan           : II, Juni 2013
Tebal                : 276 halaman
ISBN                : 978-602-9255-60-7
Peresensi         : Umar Faruk Fazhay, Mahasiswa Ekonomi Syariah IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo.


  dimuat dirimanews.com 31 Oktober 2013

Jumat, 11 Oktober 2013

Pudarnya Budaya Tafaqquh Fiddin

















Sebelum melangkah lebih jauh, pada pokok kajian alangkah baiknya jika memahami pengertian pesantren terlebih dahulu. Mungkin kemudian timbul sebuah pertanyaan dibenak pembaca yang budiman. Apa hubungannya pesantren dan tafaqquh fiddin?. Perlu kita ketahui bersama bahwa istilah tafaqquh fiddin pertama kali dipopulerkan oleh kalangan pesantren.

Pesantren pada mulanya adalah sebuah lembaga pendidikan yang dijadikan sebuah wadah untuk memahami, memperdalam dan mengembangkan ajaran-ajaran keislaman (tafaqquh fiddin). Pesantren pertama kali dirintis oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 M yang berfokus pada penyebaran agama islam di Jawa. Selanjutnya tokoh yang berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel). Pesantren pertama didirikan di Kembangkuning, yang waktu itu hanya dihuni oleh tiga orang santri, yaitu Wiryo Suroyo, Abu Hurairah, dan Kyai Bangkuning. Melalui lembaga pesantren inilah kemudian Raden Rahmat membagikan wawasan keislamannya, sehingga kemudian berhasil menelurkan santri yang tafaqquh fiddin dan mampu mendirikan pesantren sendiri.

Ada beberapa keunikan yang sifatnya eksotis yang harus kita pengang teguh bersama. Yaitu tentang sebuah istilah pengajar, pelajar dan modul dalam pesantren. Hal serupa tapi tidak bisa di serupakan, hal sama tapi tidak bisa disamakan dengan lembaga pendidikan lainnya. Di pesantren kita mengenal santri, kyai dan kitab yang tentu tidak bisa kita samakan secara mutlak, dengan yang namanya murid, guru dan buku. Karena memiliki filosofi tersendiri, meskipun hakikatnya sama.

Sedangkan tafaqquh fiddin itu sendiri adalah paham (memperdalam) ilmu agama, namun belakangan ini tafaqquh fiddin dirasa mulai memudar di kalangan pesantren. Sebagaimana pernah di sampaikan oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ace Saifuddin pada tanggal 22 Juli 2013 lalu, Dalam sebuah forum yang diadakan oleh KEMENAG yang membahas tafaqquh fiddin pesantren.Dalam forum yang dihadiri oleh 120 kyai dan pengasuh pondok pesantren itu, beliau menuturkan bahwa pesantren sekarang dirasa mengalami degradasi kualitas akademik dalam menjalankan perannya sebagai lembaga “tafaqquh fiddin”.

Menurut analisis penulis, ada beberapa faktor yang melatar belakangi degradasi kualitas akademik pesantren sebagai lembaga “tafaqquh fiddin”. Pertama adalah mendominasinya mata pelajaran yang tidak se-arah dengan tujuan tafaqquh fiddin. Kedua metode pembelajaran yang tidak inovatif atau cendrung monoton. Ketiga keberadaan pendidik yang kurang mengusai pada materi sehingga kemudian, materi yang sebenarnya mudah dan cepat dipahami berubah menjadi sukar dan sulit dipahami.

Meskipun realitasnya, memberi pemahaman ilmu agama di zaman yang edan ini sangat sukar sekali. Apalagi bagi mereka para santri khususnya dan pelajar umumnya yang sudah kadung terpengaruh oleh budaya instan, tidak mau larut dalam proses atau karena sudah terlanjur mendalami ilmu pengetahuan lainnya (yang tidak langsung menjurus pada tafaqquh fiddin). Hal ini merupakan tantangan yang sangat besar bagi para Kyai dan Ustadz. Maka dari itu, perlunya langkah krearif dan inovatif, baik itu dari segi modul yang disajikan ataupun metode pengajaran. Untuk memancing kembali semangat dalam ber-tafaqquh fiddin.

Ajaran islam yang bersumber dari al-Qur’an, Hadist serta kitab klasik maupun kontemporer merupakan sesuatu yang sangat sulit di pahami dibandingkan dengan buku terjemahan yang sifatnya instan dan terbuka. Selain membutuhkan pengetahuan yang mempuni dalam bidang gramatika bahasa Arab (nahwu dan sorrof) sebagai keyword-nya, juga dituntut memahami budaya mereka (orang Arab) untuk memberikan pemahaman yang sempurna.

Oleh karena itu, para kyai dan ustadz yang tanggap akan kondisi yang sedang menimpa para santri saat ini. Maka mereka akan mencarikan alternatif dan solusi untuk mempertahankan dan melestarikan kajian-kajian keislaman yang bersumber dari karya ulama salaf, sehingga kemudian dari mereka banyak menciptakan metode baru yang sangat relevan, mendukung dan cocok untuk diajarkan kepada para santrinya. Seperti metode cepat belajar tahwid, metode cepat membaca al-Qur’an, metode cepat belajar gramatika Arab, Metode cepat membaca kitab, serta metode cepat menghafalkan nadzam-nadzan sampai dengan metode cepat menghafal al-Qur’an. Langkah-langkah solutif seperti inilah yang kemudian banyak dilirik, diperhatikan dan diikuti oleh para santri yang menimba ilmu dalam pesantren, terlebih bagi para santri yang ikut andil dalam mempertahankan dan menyengarkan kembali momentum tafaqquh fiddin yang selama ini dirasa mulai meredup.

Selain itu mendalami ilmu agama, adalah suatu perjuangan atau bisa dikatakan jihad yang sangat besar sekali sebagaimana disampaikan Al-Qudamiy “Sesungguhnya mempelajari ilmu dan mendalami agama adalah jihad (perang) yang besar.” Jihad melawan rasa rindu, Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan rasa minder (konservatif), jihad melawan rasa lapar, dan jihad yang lainnya yang kerap kali mendera para santri yang berusaha mendapatkan pusaka tafaqquh fiddin.

Selain metode dan penyampaian materi pembelajaran yang efektif, perlu juga memberikan motivasi atau stimulasi bagi para santri untuk selalu bersemangat dalam bertafaqquh fiddin. Karena belakangan ini dirasa sudah banyak  sekali yang mengesampingkan motivasi tersebut, padahal mamfaat dibalik motivasi tersebut sangat besar sekali. Dengan adanya motivasi suatu yang sifatnya mustahil bisa jadi mungkin dan bisa di capai. Dalam hal ini kreatifitas seorang pendidik diperlukan sekali terlebih ketika berada didalam kelas, sehingga kemudian kelas tersebut bisa menjadi hidup.

Ketika semua elemen tersebut sudah terpenuhi, barulah kemudian membangun budaya tafaqquh fiddin, sebagaimana budaya akademisi yang lumrah dikenal dalam perguruan tinggi. Disinilah yang sangat sulit sekali, apalagi  budaya tersebut sudah terkikis digantikan budaya yang sifatnya glamor. Menyegarkan kembali budaya lama (tafaqquh fiddin) di tengah semaraknya budaya baru membutuhkan tantangan yang sangat besar sekali. Karena membutuhkan kebersamaan, saling melengkapi, tidak saling menyalahi satu sama lain, serta saling tegur sapa ketika ada yang salah dengan tetap menggunakan etika dan tatakramah.

Barulah kemudian, menggemakan ke seluruh penjuru dunia. Mengatakan pada dunia bahwa budaya tafaqquh fiddin adalah budaya peninggalan leluhur kita semua umat islam. Budaya para nabi, budaya para rasul, budaya para sahabat, budaya para tabi’in, budaya para ulama salaf, budaya para kyai, budaya para ustad serta budaya para santri. Budaya inilah yang akan mengantarkan kita semua pada kesuksesan dunia dan di akhirat kelak. Semoga!. 

dimuat di buletin KAMAL edisi 22