Blog ini berisi catatan seputar jurnalistik baik fiksi maupun nun fiksi MENYELAMI MIMPI

Rabu, 28 Agustus 2013

Perjalanan Menuju Gua Lebar Kota Sampang


Experiences is the best teacher, benar dikata jika pengalaman adalah guru terbaik, dan perlu kita ketahui bersama bahwa banyak cara untuk meraih pengalaman itu, salah satunya adalah dengan cara melakukan perjalanan ketempat wisata atau hiburan. Dengan pengalaman itu kita bisa memaparkan dengan sangat detail lokasi wisata itu pada keluarga atau sahabat kita yang ingin mengunjungi lokasi tersebut.

Karena tentu, kita tidak akan bisa menjadi guid yang baik kalau kita tidak terlebih dahulu menjajaki lokasi yang akan kita kunjungi, makanya dibutuhkan pengalaman dan kemampuan kamunikasi yang baik, agar para wisatanwan tertarik pada lokasi wisata yang akan kita promosikan pada orang lain.

Pokoknya perjalanan, kemana pun akan membawakan bekas dalam setiap benak pejalanannya, jadi rugi kiranya jika dalam sebuah perjalanan, hanya dibuat hura-hura belaka, tanpa harus mengamati dan mengingat kembali makna dibalik perjalanan tersebut, makanya jadikan perjalananmu lebih bermakna dan berarti.

Jejak di Masjid Jami’ Sampang
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dari kampung halamanku menuju kota Sampang. Akhirnya tibalah aku dikota Sampang. Aku pun keliling kota sebentar, kemudian mampir di kios buku di selatannya monumen, mencari koran hari Minggu kemaren, namun sayang korannya sudah habis. Lantas melanjutkan perjalanan menuju Perintis, ke Warnet baru kemudian makan bersama rekanku Adin di pasar lantai I, menikmati sajian Mie Ayam dan minum es degan pedagang kaki lima, merupakan kenikmatan yang luar biasa, dibawah panasnya terik matahari yang masuk menembus celah-celah pasar, tidak begitu lama kemudian suara adzan dhuhur pun berkumandang aku pun meneruskan perjalanan menuju masjid Jami’.

Memasuki tempat wudhu’ masjid Jami’ aku sudah merasakan kesejukannya dan ketentraman, kemudian melanjutkan shalat dhuhur bersama rekanku Adin di dalam masjid tersebut, suasana khusu’ yang sangat menyejukan sekali, shalat di masjid dambaan masyakarat Sampang itu, memang terasa beda ketimbang shalat di masjid-masjid lainnya.

Sesudah shalat dhuhur, aku berencana untuk mewawancarai takmir masjid, namun sayang aku tidak berjumpa dengan takmir masjid Jami’ itu,  aku hanya berjumpa dengan tukang pel masjid itu, niat wawancara pun aku urungkan, aku hanya memandangi bangunan masjid dari dalam, arsitektur yang luar biasa sekali, aku dapati di atap tengah masjid menggunakan kerangka dari elemen besi-besi, luar biasa sekali. Aku kembali duduk di beranda masjid sebelah selatan, sambil lalu berbincang-bincang dengan rekanku. Membicarakan tentang kesejukanan dan keindahan pemandangan di masjid itu. 

Aku sempat mengatakan pada Adin bahwa dulunya, aku tidak tahu bahwa kantor pos di kota ini dekat dengan masjid Jami’, yakni di sebelah selatan jalan masjid Jami’ kota Sampang, meski kenyataanya aku sering mampir di masjid ini namun aku tidak tahu menahu tentang kantor pos ini, aku baru tahu setelah mengirim naskah lomba LKTI kemarin, itu pun aku masih meminta bantuan tukang becak untuk mengantarkan ke kantor pos.

Jejak di Gua Lebar Sampang
Setelah larut dalam perbincangan akhirnya aku dan rekanku Adin membicarakan, langkah selanjutnya yakni antara pulang dan ke Gua Lebar, setelah aku putuskan, akhirnya kita berdua sepakat untuk mengunjungi tempat wisata kota Sampang itu, kurang lebih sekitar 500 meter dari masjid Jami’ kota Sampang tersebut. Dari gerbang masuk menuju Gua Lebar aku sudah melihat pemandangan yang beda, agak sedikit menanjak, dan jalannya pun tidak begitu lebar yakni melewati padatnya rumah penduduk kota Sampang.
 
Setibanya di Gua Lebar keadaan sunyi mencekam, tidak ku dapati satu hidung orang pun disana, aku membelokan sepeda motorku memasuki tempat parkir, kemudian melihat lobang yang berukuran raksasa itu, seperti jurang yang penuh dengan semak-semak belukar. Namun sayang aku tidak bisa masuk kesana karena pada saat itu memang lokasi itu sangat sepi sekali dan aku pun merasa takut untuk masuk dalam lobang yang ku kira awalnya jurang itu.  Aku baru tau dari sepupuku kemaren bahwa lubang yang ku pikir jurang itu adalah Gua yang ada bangunan patum Sakera di dalamnya.

Kemudian aku keliling ketempat lainnya, disana aku melihat tempat nongkrong yang bagus sekali, terlebih untuk sepasang kekasih yang ingin bermesraan dan bercumbu rayu, tapi ingat dulu, bahwa di bawahnya tempat nongkrong itu adalah jurang, terbukti disamping tempat nongkrong itu ada lubang yang ditutup dengan duri-duri, jadi hati-hati kalau mau bermaksiat disana taku tiba-tiba ambruk, naudzubillah. Kalau untuk yang sudah sah (nikah) monggo aku tidak bisa memberinya saran apalagi melarangnya.

Tidak hanya itu, disana juga ada kolam renangnya, aku juga sempatkan melihat satu hewan peliharaan yang berupa kijang disana, aku melihatnya dari luar. Dari tempat nongkron yang aku ceritakan barusan pada pragraf di atas. Masuk pada lokasi itu di kenakan karcis Rp. 5000, entahlah aku juga kurang paham, karena aku tidak sempat mewawancarai penjaga atau perawat Gua Lebar itu, aku hanya menyampaikan apa-apa yang aku baca, yang terpampang di loket sana.

Tapi, tidak hanya itu rupanya di sekitar gua lebar itu masih banyak bangunan yang belum rampung, mungkin itu merupakan sebagian bangunan dari tempat wisata Gua Lebar itu sendiri, pokoknya seru deh! Perjalanan menuju Gua Lebar kali ini. Kemudian aku pun melanjutkan perjalanan menuju pulang. Catatan perjalanan 20 agustus 2013.

 *Serial Catatan dari Pulau Sebrang

Perjalanan Menuju LPI Nurul Amal Sana Tengah Pasean Pamekasan



Berjalan berarti berhijrah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun kadang kita lupa memaknai hakikat dari perjalanan itu sendiri, berjalan bukan hanya sekedar melepas kejenuhan semata, tapi banyak keajaiban yang terkandung di dalamnya, terlebih akan terbentuknya sebuah hubungan kasih sayang sesama saudara baik: saudara se-agama, se-bangsa dan se-negara yang kokoh dan kuat, atau kita kenal dengan sebutan ukhuwah islamiyah.

Namun perlu kita garis bawahi, bahwa ada perbedaan antara silaturrahmi dan ukhwah islamiyah. Secara etimologi silaturrahmi, tersusun dari dua bahasa Arab "silatun" berarti menyambung dan "al-rahim" berarti kasih sayang.  Jadi Silaturrahmi (atau bisa dibaca silaturrahim) adalah mempererat tali persaudaraan. Begitu pun dengan ukhuwwah, secara etimologi berasal dari bahasa Arab "akhun". Artinya saudara. Ukhuwwah memiliki arti menjalin persaudaraan. Lantas, Apa perbedaan silaturrahim dan ukhuwwah?. Sebagaimana yang dijelaskan KH. Hasyim Asy'ari dalam kitabnya al-Tibyan (1998:15)—adalah kalau silaturrahmi terdapat hubungan kekeluargaan (muhrim: satu nasab) sedangkan ukhuwwah hanya sebatas teman tanpa nasab.

Maka, dari uraian di atas jelas, bahwa islam itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, persahabatan, keakraban sampai pada kekeluargaan itu sendiri. Tampa harus membeda-bedakan dan memarginalkan hak prioritas di anatara keduanya, karena jika hal itu bisa di implementasikan di kalangan umat islam khususnya dan rakyat indonesia umumnya, maka akan terciptalah sebuah bangunan persatuan dan kesatuan (united state) umat berbangsa dan bernegara yang kokoh tak tertandingi, sehingga kemudian terbebas dari ancaman yang kadang menyeret pada perpecahan.

Jejak di Masjid Waru Pamekasan
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam perjalanan, dengan mengendarai sepeda motor Jupiter Z sampailah di Masjid Waru Pamekasan, perjalanan yang sangat melelahkan sekali, suasana yang tidak pernah berubah dari beberapa tahun sebelumnya, semenjak aku masih duduk di bangku SMP sampai sekarang menempuh pendidikan di salah satu penguruan tinggi, yaitu jalan dari Jelgung Robatal Menuju Pasar Krampenang, tidak bisa aku uraikan dengan sangat detail dalam serial catatan kali ini, saking bergelombangnya, ditambah lagi dengan Jembatan yang roboh yang belum mendapat perhatian dari pemerintah Kab. Sampang, dan penulis mengakui dari sektor pembangunan Sampang memang sangat lemot alias lambat sekali, meski realitasnya Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) akhir-akhir ini, sudah menetapkan Sampang dalam petanya sebagai kota Industri.

Di masjid itu, aku melepas lelah sebentar dengan rekanku Adin, sambil lalu berbaring diberanda masjid, tidak lama kemudian aku melihat ustadz Wakil, dan aku pun spontan menghampirinya, mengajak duduk diberanda masjid kemudian, bercakap-cakap dengannya.

Beberapa menit kemudian, adzan ashar pun berkumandang aku pun mengajak rekanku dan ustadz Wakil untuk melaksanakan ibadah shalat ashar, seraya menganbil wudhu’ terlebih dahulu baru kemudian melaksanakan shalat ashar secara berjamaah, suasana yang sangat takjub sekali, ruapaya masjid ini sangat mendapat perhatian sekali baik dari takmir atau pun dari masyarakat sekitar masjid.

Setelah melaksanakan shalat ashar aku pun kembali bercakap-cakap dengan ustad Wakil, seraya dia meminta nomer Hp-ku dan mengajakku untuk mampir kerumahnya, kalau nanti sudah berada di Nurul Amal, aku pun tidak menyanggupi tawarannya hanya insyaallah yang sempat keluar dan terucap dari bibirku, karena melihat waktu yang kubawa hanya berkisar sebentar, sementara yang harus ku kunjungi tidak begitu banyak hanya beberapa rumah saja.

Jejak di LPI Nurul Amal Sana Tengah
Sepanjang perjalanan menuju LPI Nurul Amal Sana Tengah banyak ku dapati perubahan, ketimbang satu tahun sebelumnya, seperti tanjakan yang tidak lagi penuh dengan batu dan debu, serta gerbang selamat datang dan anda memasuki kawasan dan lain sebagainya, sebuah pemandangan baru yang patut mendapat acungan jempol.

Setelah tiba, di LPI Nurul Amal Sana Tengah, aku mendapati pemandangan yang sangat mencolok, yakni warna gedung madrasah yang berubah, begitu indah dan menarik dipandangi. Namun, sayang waktu pertama aku tiba disana, beliau pengasuh K. Ach. Dhafir dan K. Hairur Rasyid lagi keluar tidak ada di dhalem-nya.

Aku pun menghampiri D. Jawahir yang sedang duduk santai diberanda masjid, bersama Kholil, Khomai dan Su’udi tidak lama kemudian datanglah Fauzi, suasana yang sangat asyik dan enjoy sekali disaat sore hari, benar kata rekanku Adin, bahwa disana (Nurul Amal) paling ia suka adalah waktu sore hari, dengan cahaya matahari yang masuk menerobos lewat pepohonan dan semak belukar, dibarengi dengan percakapan, canda dan tawa sebagai bumbu penyedapnya.

Tidak lama kemudian, nyai Mia keluar dari dhalem mengahaturiku untuk alengki (masuk) ke dhalem, aku pun segera meluncur turun dari masjid bersama D. Jawahir dan Khomai, rupanya ada sedikit perubahan di dhalem bawah, yaitu di dindingnya terpangpang foto keluarga besar KH. Bahaudin sang sesepuh atau pelopor LPI Nurul Amal.

Kemudian, aku kepondok gedek dimana dulu aku mendekam disana selama satu tahun penuh, untuk menjalankan amanah dan tugas dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, suasana yang sedikit berubah selain bangunannya bertambah pohon kersen (Ceri) yang kutanam dulu disebelah utara pondok kini menjadi besar serta di penuhi dengan bunga-bunga, yang di tanam oleh guru tugas sesudahku.

Sesudah berbincang-bincang dengan Hamdi di dalam kamar (pondok), aku putuskan untuk segera mengunjungi rumahnya Hamdi, untuk menikmati degan miliknya, maklum sudah satu tahun lamanya tidak alembur (panen) degan, kerinduan yang sangat mendalam untuk menikmati kelezatan degan yang di cambur dengan susu.

Setelah matahari mulai tenggelam, di ufuk barat aku mengajak tuan rumah Hamdi, untuk mengambil wudhu’ di sungai, baru kemudian melaksanakan shalat magrib berjama’ah di rumah Hamdi bersama keluarga dan tetangga di dekat rumahnya, suasana yang penuh dengan kekeluargaan dan kasih sayang sesama umat islam.

Merasa puas serta cukup melepas rindu di rumah itu, aku melanjutkan menuju rumahnya Kholil, disana aku berjumpa dengan pak Toya, Rifki keponakan laki-laki Kholil dan Wiwik yang juga siswa PAUD dulu waktu masa tugasku di LPI Nurul Amal. Keakrabanku dengan Kholil dan Hamdi serta keluarga besarnya terjalin sejak dulu waktu aku dalam masa tugas sampai sekarang pun keakraban itu masih terjalin dengan baik, aku sangat bersyukur sekali.

Setelah bercakap-cakap dengan keluarga besar Kholil, serta orang baru yang tidak pernah ku kenal sebelumnya yaitu bapaknya Wiwik yang katanya baru datang dari Malaysia, aku pun segera kembali ke pondok namun setelah lewat di depan dhalem, langkahku terhenti disana, setelah aku melihat Ze’i, D. Jawahir dan Lora Roby aku pun kembali dalam percakapan.

Tidak lama kemudian, K. Hair keluar dari dhalem dan aku pun tenggelam dalam perbincangan yang begitu dalam dengan beliau yakni perihal perkembangan LPI Nurul Amal, serta sentilanku yang sering diingat oleh Lora Roby ketika berkencing di depan dhalem “awas, pelanggaran” aku pun tersenyum renyah mengingat kebiasaan itu. Karena setelah ku ucapkan kalimat itu, biasanya Lora Roby lari atau bersegera masuk ke dhalem.

Merasa lelah dan ngantuk aku, pamitan pada beliau untuk beristrirahat ke pondok sambil lalu menunggu kedatang kyai Dhafir, beberapa menit kemudian K. Dhafir pun rawuh (datang) dan aku pun segera sungkem sama beliau seraya mempersilahkanku masuk ke dhalem aku pun alengki (masuk) ke dhalem sampai akhirnya aku mengakhiri perbincangan sama beliau.

Baru kemudian aku melaksanakan shalat berjamaah sama Kholil di masjid, suasana yang sangat menarik sekali shalat isya’ di masjid itu karena mengingatkanku pada masa lalu yang begitu mendalam, bersama masjid. Setelah shalat isya’ aku berbincang-bincang dengan Bi’ Sama diberanda pondok, bertanya-tanya tentang perkembangan kampung Cekonceh, disana juga ada Ilzah seorang murid yang paling rajin menghafalkan kosa kata ketika mengikuti kursusan bahasa Inggris dulu. 

Pagi harinya, aku berkunjung kerumahnya Ust. Rahwini, tidak begitu lama aku disana karena beliau mau keluar untuk mengantarkan balik pondok putranya Su’udi, aku pun berpamitan untuk keluar juga lantas kembali lagi ke pondok. Beberapa menit kemudian, dua mantan anak didikku sebut Yudi dan Arif datang menemuiku, ku lihat tidak ada perubahan dari kedua fisik anak tersebut meski kelasnya sudah lebih tinggi dari dulu ketika aku ditugas.

Berselang beberapa menit kemudian, semakin banyak yang berdatangan diantaranya adalah Riz mbaknya Arif, Ika, Devi, Ilma, Fit, Fatim dan Dini, dari segi fisik memang banyak perubahan, yah begitulah pertumbuhan anak perempuan memang condong lebih cepat berkembang dari pada laki-laki, meski tidak semua anak perempuan cepat dalam perkembangan fisiknya namun, pasti ada sebagain yang sepert itu.

Setelah merasa cukup melepas rindu dengan mantan anak didik di LPI Nurul Amal, kemudian satu persatu dari mereka, pergi bergantian. Tapi, tidak lama kemudian suara gaduh, riuh dan tangisan memenuhi jalan raya. Setelah aku menghampirinya rupanya terjadi kecelakaan kecil-kecilan, hehe. Arif terjatuh dari sepeda ketika boncengan dengan Yudi, tidak jauh beda cengengnya dengan dulu sifat Arif waktu itu. Yudi pun jadi pucat, sambil lalu mengambilkan air dari dapur dhalem dan memberikannya kepada Arif ketika aku sudah membopongnya dari jalan raya ke depan pondok.

Suasana yang lucu sekali ketika Arif yang menangis tersedu-sedu lantas tertawa ketika mendengar guyonan dari Yudi, tidak pedulikan rasa sakit akibat luka jatuh di salah satu jari-jari kakinya. Setelah tangisan mulai reda Yudi pun membawa Arif pulang. Aku pun mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju pulang, sambil lalu berpamitan kepada Bi’ Ama. Bi’ Ama adalah seorang abdi dhalem Kyai Dhafir yang sudah dianggap keluarga dhalam sendiri, yang dengan rela dan senang hati merawat semua guru tugas (GT) yang di tugas disana, baik guru tugas dari Pon. Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata atau dari Pon. Pes. Darul Ulum Banyuanyar dengan penuh khidmat dan sabar.

Tidak ada yang beda dari perjalanan menuju pulang kali ini, cuman aku lewat jalan lintas Kabupaten yang dekat dengan lautan di utara pulau Madura, sedangkan waktu berangkat aku lewat jalan pintas. Yang membuatku prihatin adalah pelebaran jalan yang tidak selesai-selesai. Ironisnya lagi bukan tidak selesai di kerjakan tapi tidak selesai-selesai dibiarkan begitu saja. Beberapa kilo meter kemudian, aku pun melihat orang-orang yang berkendaraan roda dua banyak yang berhenti, aku pun berhenti kemudian bertanya pada salah satu dari mereka, apa yang terjadi gerangan. Mereka memjawab bahwa di tikungan depan sana ada operasian (Polisi), dan mereka memberikan saran padaku untuk melanjutkan perjalanan menuju pulan dengan penuh keyakinan tanpa tegang apalagi gemetar.

Aku pun mengikuti saran mereka, setelah akan sampai pada tikungan itu, tiba-tiba keyakinanku memudar, untungnya pas keyakinanku memudar akan lolos dari cegatan polisi itu aku dapati jalan kecil yang masuk pada semak-semak dan alhamdulillah aku pun bisa melewati polisi-polisi itu tanpa harus melewati tikungan yang membuat orang yang belum resmi alias tidak punya surat idzin mengemudi (SIM) gerogi. Setelah sampai pada Kec. Roabtal di utara pasar Jelgung lagi-lagi ban sepedaku bocor, apes gumamku!. Kejiadian ini sering menimpaku ketika bepergian dengan rekanku yang satu ini sebut saja Adin, namun untungnya beberapa meter kemudian aku dapati tambal ban.

Setelah mendapati tambal ban aku meminjam sepeda tukang tambal ban untuk menjemput rekanku yang ku tinggal sendirian di jalan ketika ku ketahui ban sepeda motorku itu bocor, setelah itu baru aku membawanya ke tempat tambal ban juga. Setelah semuanya beres aku pun melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya. Menuju rumah di sebrang sana. Catatan perjalanan tanggal 17 Agustus sampai dengan  18 Agustus 2013.

*Serial Catatan dari Pulau Sebrang

  

Senin, 19 Agustus 2013

Jejak Perjalanan Menuju Kota Sumenep

Taufiqurrahman Al-Azizy dalam sebuah novelnya, pernah mendefinisikan hakikat sebuah perjalanan; “orang yang bepergian hanya satu yang dibawa yaitu maksud dan tujuan”. Ketika penulis mencoba diam sejenak (merenungkan), makna terselubung dari pada ungkapan itu, kemudian membandingkan dengan realitas yang ada, pernyataan tersebut memang sangat relevan dan masuk akal sekali, dan begitu lunak dan mudah di mengerti.

Maka kemudian penulis pun membenarkan bahwa dalam sebuah perjalanan, entah itu perjalanan yang bertujuan silaturrahmi, ziarah, wisata, mudik dan lain sebagainya. Hanya satu yang dibawa dan sekaligus menjadi bekal dalam perjalanannya ialah maksud dan tujuan, jadi meskipun dalam sebuah perjalanan, kita sudah membawa oleh-oleh ataupun hadiah dan sejenisnya. Maka jangan sekali-kali kita mengesampingkan maksud dan tujuan dibalik perjalanan tersebut.

Disinilah syariat islam membedakan antara pekerjaan yang sifatnya muamalah dan ibadah, kalau urusan yang berkaitan dengan ibadah dalam hal niatnya saja sudah mendapatkan pahala. Seperti dalam perjalanan main-main kerumah teman, kalau kita niatkan untuk silaturrahman atau mempererat tali ukhuwah islamiya, maka dalam hal niatnya saja sudah mendapatkan reward (pahala). Begitu pun dalam wisata, tour atau travel kalau kita niatkan untuk tafakur fil khalkillah, berfikir tentang kebesaran dan kemaha kuasaan Allah insyallah kita akan mendapatkan pahala juga.

Tapi lain lagi dalam urusan muamalah, dalam bidang ini tidak cukup dengan hanya qashdu dan niatnya saja tapi, butuh implementasi dari qashdu dan niat tersebut, contoh kecilnya ketika ingin jual-beli maka tidak cukup dengan hanya qashdu dan niat saja, namun butuh interaksi dari kedua belah pihak yakni bai’ dan mustari, serta memenuhi syarat dan rukun jaul-beli tersebut, baru kemudian disebut dengan jual-beli, sehingga jual-beli pun benar-benar terjadi dan sah.

Jejak di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Sumenep
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari kota Sampang Menuju Kota sumenep, akhirnya sampai juga di Gedung Nasional Indonesia (GNI) dekat Taman Bunga (TB) kota Sumenep untuk mengikuti Seminar Kepesantrenan yang diadakan oleh Forum Komunikasi Santri Se-Madura (FOKSMA).

Seminar itu di hadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo KH. Moh. Zuhri Zaini BA, Sekaligus sebagai nara sumber atau penyaji dalam acara tersebut, serta di hadiri juga oleh ketua Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Pusat KH. Mursid Romli yang juga memberikan sambutan dan juga menjadi nara sumber pengganti yang tidak bisa hadir untuk mengisi acara seminar itu.

Banyak hal yang dapat saya ambil hikmah dan pelajaran dari seminar tersebut, terlebih kajian mengenai silaturrahmi yang di bahas panjang lebar oleh beliau KH. Moh. Zuhri Zaini BA, dengan dalil alquran dan hadist serta bentuk-bentuk silaturrahmi yang meliputi: saling menyapa/salam, ziarah, berkomunikasi melalui surat, telepon, facebook dll.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah memudahkan kita semua untuk saling berbagi dan berkomunikasi, maraknya perkembangan jejaring sosial, seperti facebook, twiter, salingsapa.com dan GTalk menjadi alterlatif untuk mempererat tali ukhwah islamiyah, apalagi ditambah dengan fitur-fitur yang lebih mendukung dan lebih memperjelas lagi, misalnya facebook video call, yahoo massengger, skype atau yang menjadi tren dikalangan muda-mudi sekarang adalah Black Barry Massengger (BBM-an) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Maka sangat disayangkan sekali, jika di era globalisasi dan multi media yang serba canggih ini masih banyak umat muslim yang qath’urrahim (memutus tali kekeluargaan), karena jika hal itu terjadi maka akan menimbulkan kerenggangan bahkan, bisa memicu konflik dan permusuhan sehingga hidup menjadi sempit dan tidak tenang, sehingga banyak energi dan sumber daya yang hilang sia-sia baik berupa materi, pikiran dan waktu, dawuh beliau.

Ada satu pesan beliau yang masih tergiang-giang dalam pikiran penulis yakni “fokus pada tujuan hidup baik di dunia atau di akhirat” kalau di pandang sepintas kata-kata itu memang tidak begitu menarik dan biasa-biasa saja, namun  ketika refleksikan banyak sekali makna dan hikmah yang terselubung didalamnya. Begitupun dengan KH. Mursid Romli, ada sebuah kata bagus yang disampaikan beliau dalam seminar itu; “tidak ada kehidupan tanpa ada perubahan, tidak ada perubahan tanpa adanya kebersamaan”.

Setelah mengikuti Seminar Kepesantrenan aku shalat dhuhur di masjid jami’ kota Sumenep, disana aku bertemu dengan pak Jazuli kemudian sungkem kepada beliau. Masjid itu sangat menarik sekali, dengan design klasik yang memesona, meski aku tidak bertanya tentang usia masjid itu, tapi aku yakin masjid itu berusia puluhan tahun, karena melihat dari tampilannya sudah menunjukan agak layu, seperti peninggalan kuno. Begitulah Sumenep yang dikenal dengan kota Wisata, karena memang banyak peninggalan kerajaan pada masa belanda serta potensi tempat wisata lainnya.

Jejak di Pantai Lombang Sumenep
Selesai shalat dhuhur aku berunding dengan pak Herman di taman bunga (tb), untuk melanjutkan perjalanan, rencana ingin mengunjungi water park tapi urung dengan dengan berbagai macam pertimbangan,  akhirnya kita putuskan untuk mengunjungi pantai lombang, sesampainya disana kita mengambil gambar bergantian, menikmati keindahan pantai lombang, sungguh suasana yang sangat memikat hati pengunjungnya, dengan pantai yang luas dan bersih serta di pinggirnya di tumbuhi cemara-cemara yang semakin menyejukan mata, ingin rasa berlama-lama disana untuk menikmati keindahan penciptaan-Nya.

Selain itu, banyak dibangun tenda-tenda yang berjejer di pinggir pantai itu, entahlah apakah tenda itu merupakan tenda perkemahan atau sekedar tenda perayaan hari lebaran, momen lebaran seperti saat ini memang dijadikan kesempatan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, ada yang menggunakan kuda dan juga ada yang menggunkan perahu untuk menjajaki dan menikmati luas dan keindahan pantai lombang tersebut, pokoknya momen lebaran saat ini pantai lombang sangat ramai sekali, biaya karcis masuk pun bisa dikatakan mahal sekali yaitu Rp. 8500 perindividu dibanding karcis pantai lainnya.

Namun, bagi jiwa petualangan tidak akan pernah merasa mahal, apalagi ditambah keindahan cemara-cemara yang menghiasi pantai lombang dari sepanjang jalan masuk menuju pantai lombang yang tentu tidak dimiliki oleh pantai lainnya. Orang tentu tidak akan pernah sadar, untuk melepas kebosanan dan kejenuhannya, demi me-refresh pikirannya, dengan biaya sebesar apapun tentu mereka akan membayarnya, maka rugi kiranya bagi antum yang suka berpetualangan dan berwisata kalau tidak menikmati keindahan pantai lombang Sumenep.

Jejak di Pantai Badur Sumenep
Setelah lelah, memutar-mutar di sepanjang pantai lombang akhirnya, aku melanjutkan perjalanan menuju pantai Badur Sumenep, namun sebelumnya aku melepas lelah sebentar dirumahnya pak Herman, kemudian baru menuju pantai Badur dengan biaya masuk gratis, biasa bareng anak pak kades. Pantai Badur tidak kalah menariknya dengan pantai lombang hanya saja, lebih sempit dari pada pada pantai lombang.

Di sebelah barat pantai ada sungai kecil yang mengalir, dengan air yang sangat bening, di pinggir pantai paling barat ada batu-batu yang berhias diri, aku pun mengambil gambar bergantian bersama rekanku Zuber, suasana yang tidak cukup di gambarkan dengan hanya sekedar catatan namun butuh pembuktian, pantai ini memang bisa dikatakan tidak begitu terawat jadi maklum jika pengunjungnya tidak seramai di pantai Lombang.
Kemudian, setalah merasa capek keliling-keliling pantai Badur akhirnya, aku duduk di bibir pantai sambil lalu menikmati rujak Badur, rasanya enak sekali dan beda dengan rujak yang dijual dikampung halamanku, aku baru sadar  bahwa Madura yang terdiri dari empat kabupaten yang meliputi: Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, tidak hanya beda dari segi bahasanya saja tapi dalam segi makanan pun juga beda, seperti perbedaan rujak Sumenep dan Sampang, meskipun kenyataannya memang sama rujak, benar dikata bahwa soal rasa lidah tidak pernah bohong.

Menjelang terbit matahari, aku pun melanjutkan perjalanan untuk mandi di sumber mata air di Desa Badur dekat pantai, aku sempat mendapat penjelasan dari seorang warga disana, bahwa sumber air itu, tidak pernah surut meski musim kemarau tiba. Setelah mandi aku melaksanakan shalat ashar berjamaah disebuah mushalla di sebelah barat tempat pemandian, sangat tepat dan strategis sekali posisi tempat ibadah itu, yaitu bersebelahan dengan sumber mata air yang sekaligus dijadikan tempat pemandian warga, baru kemudian kembali ketempat penginapan.

Pagi harinya aku berpamitan, untuk pulang dan aku sempatkan untuk kembali melihat keindahan pantai Badur, namun ada sedikit perubahan setelah aku sampai disana, air laut tiba-tiba tampak pasang serta ombak yang agak besar semakin menyempitkan bibir pantai, baru kemudian aku putuskan untuk segera kembali menuju kepulangan. Namun sebelumnya, aku masih mampir di salah satu rumah teman yang bernama Ainul Yaqin Mannan, dari sanalah aku melanjutkan perjalanan menuju rumah keabadian.

Di sepanjang jalan raya, suasana ramai sekali, banyak kendaraan yang berlalu-lalung maklum waktu itu kan bertepatan denga hari raya ketupat, katanya sih kalau dikota-kota yang ramai itu memang waktu hari raya ketupat, jadi tidak heran kalau waktu itu sangat ramai sekali. Aku pun juga menyempatkan singgah sebentar di Talang Siring Pamekasan, suasannya juga ramai dan banyak pengunjungnya, begitupun dengan pantai Camplong Sampang sangat ramai sekali, dengan biaya karcis masuk sangat relatif murah dan bervariasi ada yang manawarkan Rp. 1000 ada juga yang 1500 perindividu.

Sesampainya di kota Sampang, bertepatan adzan dhuhur akupun menyempatkan shalat dhuhur di Masjid Jami’ Sampang, setelah shalat dhuhur aku bertemu dengan seorang teman lamaku Moh. Nuri yang sekarang menempuh studi S-1-nya di Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, aku pun menyempatkan diri untuk bercakap-cakap sebentar dengannya, baru kemudian aku benar-benar melanjutkan perjalanan menuju rumah kepulangan yang sesungguhnya. Catatan perjalanan pada tanggal 14 Agustus sampai dengan 15 Agustus 2013.


*Serial Catatan dari Pulau Sebrang