Blog ini berisi catatan seputar jurnalistik baik fiksi maupun nun fiksi MENYELAMI MIMPI

Rabu, 12 Februari 2014

Asmaul Husna Sebagai Solusi Hidup




Bicara tentang Asmaul Husna peresensi jadi teringat sebuah keajaiban yang ada di telapak tangan manusia. Keajaiban itu berupa garis tangan yang terdapat ditelapak tangan manusia, yang membentuk sebuah angka bahasa arab. Angka tersebut, ketika di jumlah nilainya sama dengan Asmaul Husna yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu 99.


Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Nabi bersabda: “Sesungguhnyan Allah mempunyai 99 nama, barangsiapa yang menghafalkannya, maka akan masuk surga”. Hadist ini menunjukan bahwa betapa pentingnya, kita mengenal apalagi sampai bisa menghafal nama-nama Allah tersebut. Selaku umat muslim tentu, kita tidak hanya mengandalkan kemampuan intelektual dan emosial saja, tapi juga perlu mengasah kemampuan spritual, untuk melampaui krisis kehidupan yang kadang datang menimpa kita.

Dalam buku ini, Rachmat Ramadhana al-Banjari, mencoba menghadirkan nuansa baru kajian tentang Asmaul Husna. Dalam buku setebal 241 penulis buku juga memberikan makna dan penjelasan dari pada Asmul Husna tersebut. Selain itu dalam buku ini juga, di uraikan dengan jelas tentang gelar yang diberikan Allah kepada para hambanya, yang mampu bertindak dan berprilaku seperti nama-nama-Nya yang baik.

Seperti gelar Abd al-Mutakabbir (hamba Allah yang maha memiliki kebesaran) diberikan oleh Allah Swt. Kepada jiwa yang kokoh meneladani sifat Kibriya’-Nya. Jiwa ini senantiasa mendorong dan menggerakkan diri agar selalu melahirkan sikap kebesaran terhadap orang-orang  yang menentang Allah Swt. dan rasul-nya secara terang-terangan (hal. 33).

Selama ini mungkin kita tidak pernah menyadari, bahwa setiap orang muslim dianjurkan untuk selalu menyebut nama-nama yang agung itu di dalam memanjatkan do’a. Sebagaimana tersebut dalam surat Al-A’raf ayat: 180 yang artinya: “Allah mempunyai nama-nama yang baik, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Jadi jika kita mendapat masalah misalnya kurang cerdas, terbelit hutang, dijauhi teman, dizalimi orang, menghadapi ujian sekolah, sulit mencari pekerjaan, maka kita dianjurkan berdo’a dengan Asmaul Husna. Hendaklah kita berdo’a dengan sungguh-sunggug, khusu’ paling tidak kita tahu arti nama-nama yang tersebut dalam Asmaul Husna tersebut.

Oleh karena itu, hadirnya buku ini dirasa sangat penting sekali, di tengah peliknya sebagian ekonomi umat muslim. Yang kadang menjadi pemicu sehingga berujung pada hilangnya identitas kemuslimannya. Selain yang sudah diuraikan di atas, dalam buku ini juga menyajikan kandungan atau mamfaat dari pada Asmaul Husna itu sendiri sebagai kesehatan fisik, terbukanya pintu rizeki dan kesuksesan hidup serta munculnya ide kreatif dan inovatif.

Seperti yang termuat dalam buku ini (hal. 36), jika seseorang yang beriman kepada kehebatan Allah al-Khaliq dapat membaca “Ya Khaliq” sebanyak 762 kali pada malam hari dan memahami maknanya di dalam hatinya, niscaya Allah akan menciptakan untuknya malaikat yang akan selalu mendoakan dirinya. Wirid ini bermamfaat untuk memunculkan ide-ide kreatif, inovatif dan bermamfaat bagi pengamalnya.

Nabi Idris adalah manusia pertama yang membuat pakaian berjahit. Hasil karya Nabi Idris memberikan mamfaat yang besar bagi manusia. Sejak saat itu, manusia bisa memakai pakaian berjahit dengan berbagai model. Hal ini merupakan bukti atau fedback nyata dari pada kecintaan beliau kepada Allah.

Buku ini sangat layak dan cocok sekali dibaca oleh segenap umat muslim. Buku ini memiliki segudang solusi untuk menghadapi krisis kehidupan, serta di dalamnya juga disajikan do’a-do’a khusus pada setiap wirid Asmaul Husna yang ada. Do’a tersebut di tulis dengan bahasa Arab versi Bahasa Indonesia, di lengkapi juga dengan artinya. Sehingga do’a-do’a itu tidak sukar, mudah di baca oleh siapapun dan bisa diresapi artinya.

Judul                 : Hafal Luar Kepala Asmaul Husna Beserta Doa-Doanya
Penulis              :
Rachmat Ramadhana al-Banjari
Penerbit            : Diva Press
Cetakan            : Cetakan Juli 2013
Tebal                 : 241
ISBN                : 978-602-279-008-2
Peresensi           : Umar Faruk Fazhay* 

dimuat di koran Al-Amiri Pos

Selasa, 11 Februari 2014

Melaah Euforia Santri Menjelang Liburan


Dalam kamus KKBI digital dijelaskan bahwa euforia adalah perasaan nyaman atau gembira yang berlebihan.  Kemudian apa kaitannya dengan liburan santri?. Ada beberapa hal yang perlu dikaji dan ditelaah ulang mengenai liburan santri tersebut. Karena masih banyak diantara para santri yang belum paham hakikat dari liburan itu sendiri, apalagi bagi kalangan mereka yang beranggapan bahwa pesantren merupakan sebuah sangkar, kurungan atau yang lumrah dikalangan santri dengan sebutan penjara suci.

Ketika klaim pesantren sebagai penjara itu masih termaktub dan melekat dalam benak santri maka akan timbullah sebuah krakter yang tidak baik (hewani), yang mana prilaku tersebut akan kelihatan atau tampak pada saat menjelang hari liburan. Sebagai analogikanya adalah sebuah merpati jantan yang dikurung beberapa bulan dalam sangkar, ketika ia dilepas hal yang pertama yang akan ia lakukan adalah terbang setinggi-tingginya, lantas kemudian mencari betina. Semoga kita bukan termasuk santri yang seperti itu. Amin.

Selanjutnya bagaimana dengan santri?. Biasanya santri yang tertekan hidupnya dalam pesantren, atau yang beranggapan bahwa pesantren adalah penjara. Hal yang mereka lakukan pertama saat mau pulang adalah dengan cara melepas kopyah atau peci dan sarung atau kalau santri putri bisa jadi menggati jilbab dan busananya, dengan pakaian yang keren dan tredy versi zaman moders saat ini, nauzubillah mindzalik. Apalagi bagi para santri yang sudah paham atau terdoktrin bahwa kopyah atau peci itu adalah produk budaya Arab, tentu mereka akan anti sama yang namanya sarung dan peci.

Padahal realitasnya sudah jelas tercatat dalam sejarah, bahwa budaya peci itu juga identik bagi rakyat Indonesia, yang bermula dari sosok Soekarno. Konon, setelah menjalani pembuangan di Bengkulu bersama keluarga dan para pembantunya pada tahun 1942. Soekarno mampir ke Pesantren Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat asuhan Syekh Abbas Abdullah sahabatnya.

Syekh Abbas menghadiahi Soekarno peci hitam sambil berpesan “Peci ini kuberikan supaya Indonesia berdasarkan ketuhanan dan kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam.” Akhirnya, peci hitam itu menjadi ciri khas visual proklamasi dan perjuangan Soekarno di tahun-tahun kemudian.

Peci itu menjadi benda seni yang mewakili kehebatan sosok yang memiliki andil besar dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di kemudian hari, bahkan menjadi ciri khas orang Indonesia. Hatta yang tak biasa berpeci selama sekolah di Eropa, akhirnya mengikuti Soekarno berpeci pada saat-saat tugas kenegaraan dan hingga sekarang diikuti dan menjadi bagian penting dari busana resmi presiden-presiden Indonesia. Lihat saja, Presiden selanjutnya, Soeharto, BJ. Habibie, Gus Dur, dan Susilo Bambang Yodoyono tampil dengan peci sebagai baju resmi kepresidenan.

Jadi pantas kiranya, jika seandainya kita mempertahankan budaya berpeci dimanapun kita berada sebagai identitas kekal santri. Meskipun hukum asalnya adalah sunnah bagi laki-laki saat sholat (HR Bukhari I/498, Muslim hadits No 516), memasuki kamar kecil dan didaerah yang kebiasaan tempatnya memakai tutup kepala (Bughyah Al Mustarsyidin I/182). Selain itu juga untuk menjaga Keperwiraan (wibawa) seorang santri agar beretika sesuai dengan kalangan, waktu dan tempatnya.

Penulis sendiri menyadari, bahwa bagaimanapun ekspresi yang ditampilkan para santri ketika liburan. Semua itu merupakan manusiawi, namun meskipun demikian setidaknya harus ada filterisasi yang kemudian tidak melalaikan pada kewajibannya sebagai seorang santri, syukur-syukur bisa menjaga dan mempertahankan identitasnya dimanapun berada, sebagaimana pernah didawauhkan oleh alm. KH. Abd Haq Zaini: “Santri itu merupakan Identitas Abadi”. Jadi dimanapun berada harus tetap mempertahankan nilai-nilai kesantriannya.

Kesimpulan akhirnya adalah tetap penulis kembalikan kepada keyakinan masing-masing. Ambilah yang baik, dan buanglah yang jelek. Karena sesungguhnya libur yang cuman bisa dihitung dengan jari ini bisa jadi menghapus bahkan menghanguskan segala riyadah yang sudah kita kerjakan selama berbulan-bulan dalam pesantren, sebaliknya hal tersebut bisa jadi berdampak positif dengan cara mengimplementasikan keilmuan yang kita peroleh dalam pesantren ditengah masyarakat secara nyata. Karena hakikat libur yang sebenarnya adalah ujian dari Allah, ujian dari pengasuh serta ujian dari pesantren. Waallahu’alam

dimuat di Buletin KAMAL edisi 10

Sabtu, 08 Februari 2014

Kisah Nyata Tobat Sang Pendosa

Judul            : Tobat Itu Nikmat
Penulis         : Asy’ari Khatib
Penerbit       : Zaman
Cetakan        : I, 2013
Tebal             : 180 halaman
ISBN             : 978-979-024-337-8

Dalam kamus bahasa Arab, kata tobat mempunyai arti al-rujû’ min al-dzambi yang artinya “kembali dari perbuatan dosa”. Di dalam hadist disebutkan bahwa al-nadmu taubatun “penyesalan itu manifestasi tobat”. Orang yang bertobat kepada Allah adalah kembali kepada Allah dari perbuatan maksiat dengan taat kepada-Nya. Jadi menurut Abu Mansur, asal dari kata tobat adalah kembali kepada Allah. yakni ketika seorang hamba telah bertobat kepada Allah, maka Allah akan kembali menerima hamba-Nya dengan pemberian ampunan.

Jika melihat dari penjelasan leksikal yang telah diuraikan di atas, maka dapat diketahui bahwa kata tobat selalu dikaitkan dengan kata dosa dan maksiat. Seakan perbuatan bertobat merupakan satu konsekuensi yang dilakukan hanya untuk hamba yang melakukan perbuatan dosa  dengan meninggalkan Allah dan melanggar perintah-Nya karena telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Dengan penuh kesadaran  dan penyesalan atas perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukannya kemudian ia berkeinginan untuk kembali kepada Allah dengan penuh ketaatan.

Dalam buku setebal 180 halaman Asy’ari Khatib menghadirkan kumpulan cerita inspritif tentang hamba-hamba Allah yang berlumuran dosa, dengan pertolongan Allah, mereka menyentuh lian lahat dengan berbekal tobat. Buku yang menyajikan 50 kisah-kisah orang-orang yang berlumuran dengan maksiat, disajikan dengan bahasa yang lugas sehingga mudah dipahami. Membaca buku Asy’ari Khatib ini, mengingatkan peresensi pada karya fenomenalnya Bilik-Bilik Cinta Muhammad yang telah behasil penulis buku salin (terjemah) kedalam bahasa Indonesia yang dramatis dan puitis.

Membaca kisah-kisah yang tertuang dalam buku ini, menyadarkan kita pada keagungan Allah Swt. Allah tidak pernah membedakan antara makhluk-Nya yang iman dan yang ingkar semua tetap mendapat nikmatnya, serta makhluk-nya yang selalu berbuat maksiat senantiasa mendapat ampunannya, asal mereka mau bertobat. Sebagaimana firman-nya dalam surah al-Baqarah ayat 222. “Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mereka yang membersihkan diri”. Dari ayat ini jelas bahwa Allah cinta pada hambanya yang mengakui kesalahannya, lantas bertobat.

Dalam sebuah hadist qudsi Rasulullah juga pernah bersabda “Allah bahagia menyambut tobat hamba-Nya melebihi bahagianya salah seorang kalian ketika berada di padang lepas, unta tunggangannya hilang bersama seluruh muatan bekal makanan dan minuman, lalu setelah putus asa dan berbaring dibawah rindang sebatang pohon, tiba-tiba unta itu berdiri tepat di hadapannya, dan dengan cepat ia melompat memegangi tali kekangnya. Saking bahagianya sampai-sampai Allah berseru, “Oh, engkau tuhanku dan aku hambamu. Eh, Aku sampai keliru saking bahagia-Ku. (hal. 25)

Pada halaman 48 dalam buku Ini dikisahkan bahwa pernah ada seorang pria Bani Israil bergelimangan maksiat selama 20 tahun. Padahal 20 tahun sebelumnya itu berlaku taat. Sampai suatu hari ia berdiri di depan cermin dan melihat jenggotnya sudah memutih. Kemudian ia berucap “Tuhanku, sudah dua puluh tahun aku bergelimangan maksiat. Jika aku kembali kepada-Mu, tolong terimalah aku!”. Tiba-tiba ia mendengar suara. “Telah kuasingkan dirimu dari-Ku maka Kuasingkan diri-Ku darimu. Telah kautinggalkan Aku maka Kutinggalkan dirimu. Kau telah maksiat kepada-Ku, tapi Kubiarkan dirimu. Maka jika kau kembali kepada-Ku, Aku pun menerimamu”.

Imam Al-Gazali berkata dalam Ihya’ Ulum al-Din, “Jika ada yang melampaui batas dalam kemaksiatan, lalu mengangkat tangan dan berdoa, Duh Tuhanku,’ maka suaranya akan ditutup oleh malaikat dari pertama..kedua..ketiga..sampai keempat. Kemudian Allah menegur, ‘Sampai kapan kau akan menutup suara hamba-Ku. Dia tahu tak ada yang bisa mengampuni dosa selain Aku. Maka saksikanlah, wahai malaikat-malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuninya. (hal.49)

Buku ini sangat layak dan cocok di konsumsi oleh kalangan umat islam, terlebih bagi mereka yang putus asa akan rahmat Allah karena saking banyakya mengerjakan maksiat. Tapi kendatipun tobat itu gampang, sebagaimana yang terdapat dalam kisah-kisah dalam buku ini, perlu disampaikan kembali perkataan penulis buku dalam sebuah kata pengantarnya bahwa: “Yang jelas, tak satu pun, kisah dalam buku ini yang merekomendasi pembaca baik secara tersurat maupun tersirat untuk melakukan dosa dan maksiat”.

Peresens: Umar Faruk Fazhay, Mahasiswa Ekonomi Syariah IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo


 dimuat di wasathon.com 08 February 2014