Blog ini berisi catatan seputar jurnalistik baik fiksi maupun nun fiksi Juni 2013 ~ MENYELAMI MIMPI

Senin, 17 Juni 2013

Perempuan Yang Menggenggam Iman



Perempuan shalihah tentu idaman seluruh pria, ia yang menggenggam iman, didalamnya tertanam nilai-nilai keimanan dan keislaman yang menancap dalam hatinya, kuat emosianal dan spiritualnya. Namun masih adakah perempuan-perempuan yang seperti itu?. Bukankah saat ini sudah banyak sekali perempuan yang menggadaikan bahkan menjual harga dirinya hanya demi sesuap nasi yang ingin dikunyahnya.

Dalam sebuah novel yang ditulis oleh Fahri F. Fathoni. Mencoba menghadirkan seorang sosok perempuan yang berlatar belakang dari keluarga yang sangat miskin, yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, disebabkan kecelakaan. Di sisi lain ia harus menyekolahkan saudara kandungnya. Perempuan itu bernama Fira Anggraheni dan saudaranya beranama Farid Aziz.

Mereka hidup berdua dengan sederhana, keseharian Fira hanya berprofesi sebagai seorang pedagang nasi uduk. Dalam suatu kesempatan Fira sempat merenungkan nasib dan cita-citanya di masa yang akan datang, terlebih keinginan merubah rumahnya menjadi rumah besar seperti istana. Bagaimana mungkin gerangan seorang yang hanya berjualan nasi uduk bisa merubah nasibnya, kalau memang tidak bergantung pada tuhan yang maha kuasa. Benar kiranya bahwa manusia dihadapan Allah, hidupnya antara huruf kaf dan nun, jika Allah kehendaki jadi jadilah, dan jika tidak maka tidak akan terjadi.

Pada suatu ketika. Fira bertemu dengan mantan temannya dulu waktu sekolah, yang bernama Dewi. Fira bertemu dengan Dewi saat ia berjualan nasi uduk di pasar Delanggu, suatu momen yang sangat mengharukan sekali. Pertemuan antara dua sosok teman yang lama tidak bertemu. Diceritakan sangat sederhana dalam novel ini,  dengan kata-kata yang tidak berbelit-belit juga.

Perbincangan antara Fira dan Dewi berujung, pada sebuah perjanjian akan kunjungan Dewi kerumah Fira. Setelah Dewi lenyap dari hadapan Fira, baru Fira membereskan barang dagangannya untuk dibawa pulang sambil, menunggu Dewi di rumah Fira, tak lama kemudian Dewi pun datang dengan mengucapkan salam. Dengan busana muslim yang membuatnya sangat memesona. Selang beberapa menit kemudian Farid pun datang dari sekolah seraya mengucapkan salam. Tidak lama kemudian Dewi mengeluarkan sebuah hadiah yang berisi informasi lomba memasak yang berhadiah rumah mewah, yang diakan oleh Pluto TV di Jakarta.

Sesudah kepulangan Dewi dari rumahnya Fira selalu merenungkan dan merembukkan akan lomba itu dengan adiknya Farid, mereka berdua saling berunding. Akan biaya atau ongkosnya ke Jakarta, setelah memikir panjang akhirnya mereka putuskan untuk menjual harta warisan ibu dan bapaknya, yaitu berupa perhiasan dan sepeda onthel kesayangnya. Namun sebelum mereka menjual barang warisan itu mereka meminta restu pamannya yang bernama Hadi, dan setelah mendapat restu dari pamannya barulah barang-barang itu di jual dan dikumpulkan semua uang miliknya.

Setelah uang itu terkumpul semua akhirnya Fira dan Farid memutuskan untuk segera pergi ke Jakarta mengikuti lomba itu, mereka pergi ke Jakarta dengan menaikki bus ekonomi, sesampainya di Jakarta mereka langsung menaikki mobil menuju alamat lomba yang terdapat dalam formulir lomba tersebut, tak lama kemudian mereka sampai disana, dan selang beberapa menit dari kedatangannya ketempat itu lomba pun di mulai.

Fira memulainya dengan serius, dia memasak nasi uduk dengan sambal ayam penyet. Setelah dua jam kemudian panitia pun meniup trompetnya bertanda lomba masak selesai, kemudian para juri pun menghampiri dan menilai masakan mereka masing-masing , begitupun juri idamannya Robert Brady, seorang aktor film yang sejak dulu diidamankan oleh Fira.

Singkat cerita Firalah yang menjadi juara pertama lomba memasak itu, dia memperoleh hadiah uang tunai sebesar lima puluh juta, sekaligus dia mendapatkan rumah mewah, tidak hanya itu tapi dia juga dilamar oleh Robert Brady artis idola yang sempat menjadi juri lomba masak tersebut. Kebahagiannya semakin berlimpah-ruah, cita-cita untuk mempunyai rumah mewah rupanya sudah tercapai. Dua minggu kemudian ia menuju ke pelaminan tidak hanya itu dalam resepsi itu juga dilansungkan dengan perespmian restoran miliknya.

Setelah enam bulan kemudian Fira membangun rumah tangganya akhirnya perutnya berisi benih cinta, dan pada saat itu juga Robert Brady selaku aktor mulai sibuk dan larut dalam kerjanya ia pergi shooting ke sumatera. Fira pun mulai gelisah merindukan dia. Namun kerinduan itu tidak sesuai dengan yang diimpikan, sesudah kepulangnya Robert menjual Fira pada temannya yang bernama Gaino. Dengan cara membius Fira lalu di senggamahi berdua bersama temannya itu, hal ini terbukti dari foto-foto yang di tinggalkan di kamarnya.

Fira pun larut dalam kesedian, Fira merasa sudah dihianati oleh Robert, Mahligai cinta yang dibangunnya  seolah dicerabut dan dicampakkan bersama akarnya, apalagi sesudah datangnya surat pernyataan cerai. Kesedihan Fira semakin bertambah. Rasa sedih dan kecewa itu terus bertambah ketika, temannya yang telah mengantarkan ke pada puncak kesuksesan yang bernama Dewi menyatakan bahwa dia tidak lagi berkrudung, dia menyatakan sudah kembali pada agama asalnya yaitu agama kristen. Disusul lagi dengan fitnah pembunuhan suaminya Robert yang akhirnya dia di jebloskan dalam penjara.

Novel ini sangat penting sekali dibaca, terlebih oleh kaula mudi, yang justru terjepit dalam masalah ekonomi, sosok Fira dalam novel ini merupakan sosok perempuan yang tangguh mempunyai cita-cita besar namun tidak juga mengesampinkann nilai-nilai syariat islam, ia selalu menggantungkan segala sesuatunya pada tuhan semesta alam, sampai akhirnya cita-citanya pun berhasil di raih semua, dan ia pun menemukan sosok laki-laki shaleh pilihan hatinya yang bernama taufik, sehingga Fira merelakan dirinya sebagai sejadah yang ia cium ketika ia sujud.  
________________________________________
Judul buku       : Kuingin Jadi Sajadahmu                                
Penulis              : Fahri F. Fathoni
Penerbit           : Safira
Tahun Terbit    : Januari 2013
Tebal               : 212 hlm           
ISBN               : 978-602-7723-26-9
Peresensi         : Umar Faruk Fazhay, Mahasiswa Ekonomi Syariah IAI. Nurul Jadid
                            (IAINJ) Paiton Probolinggo
dimuat  di www.rimanews.com

Rabu, 12 Juni 2013

Bagi anda yang ingin bagus pronouncition atau pengucapan dalam berbahasa inggris silahkan kunjungi The Eminance Pare Kediri, disana kalian bisa menyetel logat kalian semua menjadi orang Inggris dan Amerika beneran ketika berbicara.



















Jasa Pembuatan Email dan Facebook

Paket 10 Ribu : Untuk Pembuatan email (yahoomail atau gmail)  dan Facebook
Bila Anda Berminat Silahkan mengirimkan data ke kami sesuai dengan Format :

v  Nama Lengkap : Nama Anda
v  Tgl lahir : 12-03-1964
v  Alamat : Jakarta
v  Jenis Kelamin : Laki-laki
v  Contoh Format Sms : A#Nama Anda#12-03-1964#Jakarta#Laki-laki
v  Kirimkan ke email     : Faruk_fazhay@yahoo.com
v  Nomer Hp                : 085204564146
Cukup dengan Transfer Pulsa Telkomsel sebesar 10.000 ke nomer ini: 085204564146
Setelah anda berhasil melakukan transfer atau mengirim PULSA ke nomor Kami, silahkan Konfirmasi Dengan Mengirimkan data anda sesuai dengan Contoh format pengiriman formulir sebagai berikut:
#Nama Lengkap Anda #13-03-1964#Jakarta#Laki-laki. Kirim ke No : 085204564146



Jejak Perjalanan Spiritual Baginda Rasulullah



Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spritual Baginda Rasulullah SAW, yang dilakukan oleh Rasululllah setahun sebelum hijrah ke Madina Al-Munawarah, tepatnya pda tanggal 27 Rajab tahun pertama sebelum hijrah atau tahun 621 M, dengan menunggang Burak yang dimulai dari Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah ke Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis, Palestina. Manakala Mi’raj membawa maksud naiknya Baginda Rasulullah ke langit dari Masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha.

Arti dari Isra’ dan Mi'raj yaitu penggabungan dua kata yang mempunyai arti di berjalankan dan di angkat kelangit seorang hamba termulya yaitu Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap Nabi dalam waktu yang sangat singkat kurang lebih hanya seperempat malam saja dan Rasulullah SAW kembali pulang ke Mekah sebelum terbit fajar.

Coba kita bayangkan secara logika perjalanan Isra’ Nabi Muhammad SAW dari masjid Haram yang ada di kota Makah ke masjid Aqsa yang ada di palestina yang berjarak beribu-ribu KM di tambah dengan perjalanan Mi'raj yaitu di angkatnya nabi dari bumi tepatnya dari masjid Aqsa ke langit ke tujuh sampai sidrotulmuntaha hanya di tempuh beberapa jam saja.

Kalau di pikir secara logika yaitu tidak mungkin semua itu bisa terjadi, namun kalau dipandang secara keimanan maka itu mungkin saja terjadi karena cara mandangnya dengan cahaya keimanan di dalam hati yang begitu reflek dan cepat menerimanya seperti cepatnya cahaya matahari menembus permukaan bumi.

Begitu pula dengan kejadian Isra’ Mi'raj yang tidak lepas dengan sebuah cahaya atau lebih tepatnya ada empat sumber cahaya yang menyebabkan kejadian itu sangat singkat dan cepat. Berikut empat sumber cahaya tersebut: Pertama adanya Allah SWT dzat yang memiliki cahaya. Kedua adanya malaikat yang di ciptakan dari cahaya. Ketiga adanya Nabi Muhammad yang wajahnya bagaikan cahaya. Keempat adanya Buraq yaitu kendaraan yang di pakai oleh nabi Muhammad SAW pada waku Isra’ Mi'raj yang pada jidatnya di tulis nama Muhammad yang mengandung cahaya ke Nabian.

Dalam perjalanan spiritual Baginda Rasulullah itu, banyak hikmah dan pelajaran yang patut kiranya kita renungkan maksud dan esensi dari pada isra’ mi’raj tersebut. Tentang kejadian-kejadian yang jauh dari nalar dan logika manusia, mulai dari peristiwa yang mengharukan sampai pada peristiwa yang mengerikan, semua seolah terangkum dalam jejak perjalanan spritual Baginda Rasulullah SAW, baik itu perjalanan horisontal (isra’) atau pun perjalanan vertikal (mi’raj).

Namun yang perlu kita ketahui bersama bahwa yang paling pokok dalam perjalanan peristiwa isra’ mi’raj adalah perintah akan kewajiban shalat lima waktu, Baginda Rasulullah langsung menerima kefardhuan shalat itu langsung dari Allah SWT tanpa di dampingi oleh malaikat Jibril. Pada waktu itu, ketika mendekati Sidratul Muntaha, malaikat Jibril menghentikan langkahnya dan menyuruh Rasulullah SAW meneruskan perjalanannya sendiri. Jibril berkata kalau dia memaksakan diri mendampingi dan mendekati Sidratul Muntaha maka Dia akan hancur. Inilah satu-satunya wahyu atau perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW tanpa perantara malaikat Jibril, yaitu wahyu mengenai shalat fardhu.

Makanya kemudian shalat merupakan ibadah spesial bagi umat Islam. Bahkan shalat inilah yang menjadi barometer diterima atau tidaknya amal ibadah kita yang lain, sebagaimana dalam hadits Nabi SAW berikut ini: “Amal yang pertama-tama ditanyakan Allah SWT kepada hamba-Nya di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima, maka akan diterima seluruh amalnya. Dan bila shalatnya ditolak maka akan tertolak pula seluruh amalnya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, At Thabrani).

Shalat merupakan kado spesial langsung dari Allah untuk makhluk-Nya, yang tidak hanya diwajibkan Baginda Rasulullah tapi juga bagi seluruh umat dan pengikutnya, karena ketika umat Islam melakukan aktivitas shalat maka kita akan “bertemu” dengan Allah SWT sebagaimana yang dialami Nabi SAW ketika Mi’raj. Bahkan untuk meyakinkan umatnya, Rasulullah SAW bersabda: “Ash-Sholatu Mi’rajul Mu’minin (Shalat itu Mi’raj-nya orang mukmin)”.

Jadi umat Islam-pun sebenarnya dapat Mi’raj! Lalu bagaimana caranya supaya kita dapat Mi’raj?. Orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya pastilah dia mengalami suasana Mi’raj dan selalu ingin berlama-lama dalam aktivitas shalatnya, karena dia “bertemu” dengan Allah SWT.

Rasa khusyu’ ini didapat ketika antara otak kanan (spiritual) dan kiri (logika) kita mengalami keseimbangan (zero mind). Ketika ini tercapai maka ketenangan akan mengalir atau turun ke hati. Apabila hati telah tenang maka anda akan merasakan Ar-Ruh akan melesat terbang menuju Ar-Rabb. Karena Ar-ruh adalah suci, inilah media kita untuk ber-Mi’raj kepada Allah SWT . Inilah gambaran mengapa Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Al-Masjidil Haram harus ke Al-Masjidil Aqsha terlebih dahulu, baru kemudian ke Mustawa (langit ke sepuluh). Karena salah satu yang membedakan antara kita, para Rasul, Nabi, para Sahabat dan Waliyullah, dalam beribadah adalah ke khusu’an-Nya.


Karena ketika seseorang itu khusuk dalam shalat-Nya, maka khusuk juga seluruh anggota badanya, artinya orang itu tidak akan berbuat maksiat dan kemungkaran di muka bumi ini, sebagaimana yang pernah di sampaikan oleh Aagym dalam sebuah ceramahnya: “Andai kata khusuk di dalam hatinya, maka khusuk pula seluruh anggota prilaku tubuhnya, tenang dihatinya, tenang di wajahnya dan tenang pula dalam sikapnya”. Semoga kita yang mengapresiasi akan malam peringatan jejak perjalanan spiritual Baginda Rasulullah, di berikan ke khusu’an oleh Allah dalam ibadah kita. Amin.(*)

Selasa, 04 Juni 2013

Pesantren Cyber Sebuah Fenomena



Oleh Umar Faruk Fazhay

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis keislaman pertama yang lahir dibumi nusantara ini, yang di cetuskan oleh Syaik Maulana Malik Ibrahim dengan pola pengajaran yang digunakan masih tergolong sederhan dan tradisional, seperti sorogan, wetonan dan bandongan, dalam pengajaran kitab-kitab klasik. Aktivitas pengajaran semacam ini sering dilakukan di masjid-masjid, langgar, atau bahkan dirumah para kyai.

Namun dari kesederhaan tersebut, pesantren mampu malahirkan beberapa tokoh besar seperti M. Natsir, Buya HAMKA, Agus Salim, Hasyim Asy’arie, Jenderal Soedirman, Kasman Singodimedjo, Gus Dur, dan Mahfud MD. Dari situ jelas bahwa sumbangan pesantren sangat besar sekali bagi bangsa ini, baik sumbangan yang berupa ideologi ataupun finansial, pesantren selalu hadir menjadi yang terdepan mengikuti perkembangan zaman dan tidak serta merta meninggalkan tradisi yang sudah lama berjalan.

Hadirnya wacana Pesantren Cyber yang pernah digulirkan oleh Jurnal Pondok Pesantren Mihrab edisi IV Januari-April 2004. Merupakan salah satu bukti bahwa pesantren selalu  up to date terhadap keberlangsungan zaman yang kian hari semakin canggih dan penuh dengan tantangan. Pesantren yang kerap kali disapa dengan sebuah lembaga pendidikan yang kolot dan konservatif, rupanya sudah beralih dan berbenah diri menuju lembaga pendidikan yang selalu up to date dan terdepan, dari berbagai jenis ilmu pengetahuan especially keagamaan.

Pesatnya perkembangan zaman, yang di topang oleh hadirnya teknologi informasi dan komunikasi serta internet. Justru tidak menggegerkan pesantren, pesantren selalu aktual dan beruapaya menjadi yang terdepan, pengadaan website pesantren merupakan bukti bahwa pesantren tidak pernah lekang oleh waktu dan zaman, kehadirannya di berbagai ruang dari ruang nyata sampai pada ruang maya selalu membawakan dampak yang positif dan solutif.

Namun sebutan yang lazim dikalangan netter ketika pesantren itu sudah hadir dalam bentuk elektronik, disebut dengan istilah pesantren cyber. Adapun dinamika yang dijalankan dalam dunia pesantren cyber itu, Bentuknya bisa bermacam-macam, dari yang sederhana seperti surat-menyurat elektronik (e-mail), diskusi dan belajar lewat grup mailing list, atau lewat situs web yang dirancang interaktif. Semacam situs www.pesantrenonline.org, www.pesantrenvirtual.com, www.eramuslim.com, www.myquran.com, atau jejaring sosial semacam salampesantren.com, salingsapa.com. sudah cukup dikenal di kalangan netter yang membutuhkan materi Islami. 

Selaku santri aktif perlu kiranya kita bergabung dengan situs web atau jejaring sosial yang disebutkan di atas, atau istilah penulis nyantri di pesantren online. Untuk menguatkan identitas kita sebagai santri. Hal ini merupakan upaya penulis untuk menguatkan identitas santri yang kerap kali dilepas ketika sudah surfing di dunia maya. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam bergabung di pesantren cyber, seperti keanggotaan (membership), digital library, chatting, forum diskusi, pertemuan offline, komunikasi penunjang dan asas legal formal.

Karena memang hadirnya internet di tubuh pesantren merupakan sebuah kesempatan besar, untuk menyampaikan risalah ilahi yaitu misi pesantren terkait dengan dakwah islam. seorang akademisi Barat yang menulis buku Virtual Islamic: Computer Mediated Communications and Cyber Islamic Environment (Cardiff University of Wales: 2000), menyebutkan bahwa rata-rata yang menjadi landasan kalangan muslim mengembangkan layanan di internet, tak lain karena soal dakwah.

Bagi mereka, kata Bunt, merancang situs web, menyediakan layanan online Islami, aktif berdiskusi di berbagai mailing list merupakan cara mudah untuk memenuhi kewajiban tersebut. Atau, menurut istilah Jeff Zaleski dalam Spiritualitas Cyber Space (Mizan, 1999), internet merupakan alat dakwah yang berdaya guna dan Islam merupakan agama yang hidup dalam perubahan. “Agama ini cocok untuk berkembang dalam internet yang tidak bersifat hierarkis,” kata Zaleski.

Mungkin itulah beberapa keunikan yang dimiliki oleh pesantren yang sangat beda dengan lembaga pendidikan yang lain, di pesantren kita kenal dengan sebutan santri, kyai dan kitab dan di luar pesantren kita kenal dengan sebutan murid, guru dan buku yang tentu tidak bisa disamakan begitu saja, karena dari masing-masing kata itu memiliki filosofi tersendiri.

Selain pendidikan moral, pendidikan spritual(kebatinan) merupakan kegiatan yang tidak pernah dilupakan dilingkungan pesantren baik itu pesantren konvensional atau pesantren modern. Seperti riyadah, istighasah dan lain sebagainya. Sehingga lulusan pesantren tidak hanya cerdas secara intelektual dan emosional (IPTEK) tapi juga cerdas secara spritual (IMTAQ). Karena benar kata kata Misbahul Huda dalam bukunya “anda bisa saja kuat secara fisik, cerdas secara intelektual, dan dewasa secara emosional. Tetapi jika anda lemah spritual maka anda tidak pernah bisa melampaui krisis kehidupan anda” .

Oleh karena itu, perlu kiranya kita yang berstatus santri atau yang tidak berstatus santri yang tidak sempat mengenyam pendidikan di pesantren, untuk selalu dekat dengan pesantren, toh meskipun realitasnya kita tidak berada dalam lingkungan pesantren, saat ini kita bisa terhubung, mendengarkan petuah-petuah dari pihak pesantren lewat bantuan gadget yang sudah terkoneksi dengan internet, dan hal itu tentu sudah tidak asing lagi di zaman multi media ini. Karena hakikat pesantren adalah, menjaga tradisi dahulu yang baik dan mengadopsi sesuatu yang baru yang baik pula.(*)