Blog ini berisi catatan seputar jurnalistik baik fiksi maupun nun fiksi 2013 ~ MENYELAMI MIMPI

Jumat, 20 Desember 2013

Kesadaran Berorganisasi


Sebuah organisasi tidak jauh beda dengan yang namanya anatomi tubuh manusia yang fungsinya saling melengkapi satu sama lain. Kepala kita yang berfungsi sentral dalam tubuh kita, tidak akan pernah berfungsi sempurna manakala salah satu diantara bagian tubuh kita ada yang sakit. Pasti yang namanya kepala akan merasakan sakit yang diderita anggota tubuh. Sebaliknya jika kepala sendiri yang sakit seluruh bagian tubuhpun tidak akan pernah berfungsi dengan optimal.
Selain itu, para pakar organisasi mentakrif organisasi sebagai segala bentuk persatuan atau perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan dimana seseorang terjun, bersusah payah untuk meraihnya. Sehingga kemudian banyak diantara lembaga pendidikan membentuk sebuah organisasi yang dijadikan wahana utama dan sebagai bekal pembelajaran bagi para anak didiknya ketika kelak terjun ditengah-tengah masyarakat.
Hidup dalam sebuah organisasi berarti kita telah belajar hidup bermasyarakat, belajar memahami sifat, krakter dan kepribadian orang lain. Dengan berorganisasi berarti kita sudah memasuki langkah awal untuk berkabung dalam kegiatan sosial, mengabdikan diri pada masyarakat. Serta membebaskan diri dari kungkungan individualisme, acuh tak acuh dan sombong.
Sebab itulah kemudian pesentren kita tercinta ini, memformulasikan panca kesadaran santri  kedalam lima bagian yang meliputi kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta kesadaran berorganisasi sebagai puncak dan motor penggerak dari beberapa panca kesadaran santri yang lainnya.
Salah satu alasan dirumuskannya kesadaran berorganisasi, karena selama ini umat islam hanya bangga dengan jumlahnya yang mayoritas. Mereka tidak pernah memperhatikan kelemahan yang terdapat pada tubuh umat islam itu sendiri. Sehingga daya saing dalam pengembangan pendidikan, ekonomi, budaya dan politik nihil dan memperhatinkan.
Hal tersebut yang kemudian berimplikasi pada lambatnya pengembangan sumber daya manusia (SDM). Berangkat dari fakta itulah kemudian pesantren yang merupakan lembaga pengembangan ilmu pengetahuan keislaman, tidak pernah surut untuk memotivasi para santrinya untuk ikut andil dalam berorganisasi.
Sementara Islam itu sendiri menghendaki organisasi yang kuat dan handal, barisan yang teratur seperti bagunan yang kokoh ( بنيان مرصوص ) sebagaimana terdapat dalam QS. As-Shaff : 4, kita ingat pula statemen Sayyidina Ali ra, “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir”.
Dari beberapa uraian diatas jelas bahwa terjun dalam sebuah organisasi merupakan merupakan kebutuhan mendesak yang perlu segera kita tangani, untuk memperbaiki citra umat islam kedepan. Adanya pola hubungan yang baik antara satu bagian dengan bagian yang lainnya, yang tentu mengedepankan komunikasi dan koordinasi dalam menjalankan aktifitasnya, merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan bersama kelak dimasa depan.
            Karena tanpa kita sadari adanya teori modern sekarang: Planing, Organizing, Activiting and Controlling, telah banyak dilakukan oleh Nabi Saw. Begitupun dengan organisasi yang baik telah banyak Beliau contohkan baik itu dalam pembentukan Negara Madinah dan dalam berbagai startegi perang yang pernah beliau pimpin. Semua itu berjalan dengan baik dan lancar. Selamat Berorganisasi!

dimuat di Buletin KAMAL

Jumat, 06 Desember 2013

Klik Disini Anda Akan Mendapatkan Majalah Impor Gratis dari Saudi Aramco World



Saudi Aramco World adalah media milik The Arabian American Oil Company (Aramco), sebuah perusahaan minyak Internasional Arab-Amerika yang telah berdiri sejak 75 tahun yang lalu. Saudi Aramco World ini merupakan majalah dua bulanan yang bertujuan untuk memperluas pengetahuan tentang budaya, sejarah dan geografi dunia Arab dan Timur Tengah serta hubungannya dengan Barat. Majalah ini disebarkan secara gratis ke seluruh dunia tanpa bayaran dan berdasarkan permintaan. Siapa saja yang mendaftarkan diri ke program berlangganan majalah cetaknya akan mendapatkan majalah Saudi Aramco World secara gratis.

Saya sudah berlangganan majalah ini sejak tahun 2010 yaitu ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA MUBA). Sampai detik ini, setiap dua bulan sekali pak Pos rutin mengantarkan majalah dari Amerika ini langsung ke asrama saya. Ya, majalah tersebut dikirimkan ke alamat kita jika sudah berlangganan, gratis. Majalahnya sendiri berisi artikel dan informasi seputar dunia Arab dan Timur Tengah, tentang budaya, pariwisata, kuliner, resep masakan, flora fauna, teknologi dan sebagainya. Semuanya ditulis dalam bahasa Inggris, jadi secara tak langsung majalah ini sudah memberikan kontribusi pada perkembangan pengetahuan saya terlebih tentang bahasa asing. Dari segi isi, menurut saya lumayan bagus. Kita jadi mengetahui banyak hal tentang dunia Arab dan Timur Tengah.


Dulu awalnya saya mendapatkan informasi ini dari seorang teman pondok di Pon.Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura yang bernama Kholil Aziz SN. Iseng dan penasaran, apa benar bisa dapat gratis, akhirnya saya daftarkan diri saya pada program langganan majalah yang ditawarkan. Nothing to lose. Sekitar sebulan kemudian, majalah perdana saya benar-benar datang! Saya sungguh terkejut dan senang bukan main. Selanjutnya secara berkala majalah-majalah itu menambah koleksi buku pribadi saya dan kini sudah bertumpuk banyak. Lumayan, ‘kan, gratis! Koleksi buku pribadi kita juga bisa bertambah.

Nah, bagi Anda yang ingin mencoba berlangganan, bisa daftar di sini. Masa berlangganan biasanya untuk 12 edisi, kira-kira selama 2 tahun, tapi nanti kita bisa memperbaharui (renew) status berlangganan kita jika sudah mau habis. Selain majalah gratis, kadang-kadang di dalam majalah Saudi Aramco World juga ada program lainnya yang umumnya juga gratis, misalnya permintaan DVD e-majalah, berlangganan hadiah gratis, dsb. Selamat mencoba!

Kamis, 14 November 2013

Menyoal Hijab Stylish



Membludaknya produksi Hijab Stylish, merupakan tantangan besar bagi umat muslim sekalian, terlebih bagi pemuka agama seperti para kyai dan ulama, untuk mengkaji ulang batasan-batasan dari hijab itu sendiri. Sehingga kemudian tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya, artinya syariat islam yang sudah berlaku tidak serta merta dilepas dan disesuaikan denga trend zaman, namun trend zamanlah yang seharusnya menyesuaikan dengan hukum syariat islam, terlebih kaitannya dengan hijab yang sedang booming saat ini.

Awalnya kata hijab, memang belum akrab ditelinga kita. Kita lebih sering mendengar kata jilbab. Jilbab merupakan salah satu jenis pakaian muslimah yang dipadukan dengan busana muslim atau busana panjang lainnya. Menggunakan jilbab pada dasarnya adalah kewajiban bagi wanita muslim. Meski realitasnya masih banyak wanita muslim yang belum menggunakan jilbab.

Jilbab dari masa ke masa akhirnya mengalami perkembangan bila ditinjau dari segi fashion. Berkat perkembangan inilah, sebutan ‘hijab’ menjadi lebih populer. Hijab memiliki ciri fashion yang lebih kental dibandingkan jilbab pendahulunya. Sebelum berkembangnya dunia mode muslimah dalam 2-3 tahun terakhir, jilbab terkesan lebih sederhana dan apa adanya. Sementara hijab masa kini, tidak butuh waktu lama untuk mengeluarkan kreasi baru, gaya atau motif baru dan trend terbaru. Sehingga keberadaannya perlu dipertanyakan, apakah hijab stylish yang menjadi trend saat ini sudah memenuhi standar syariat islam atau tidak?.

Menurut Al-Quran hijab berarti penutup secara umum. Allah SWT. dalam surat Al Ahzabayat 58 memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW  waktu mereka meminta suatu barang pada istri Nabi SAW untuk memintanya dari balik hijab. Jadi, hijab berarti umum, bisa berupa tirai pembatas. Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau menghalangi dirinya. Hijab berasal dari kata ‘ha-ja-ba’ yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu.

Selain itu, dalam al-Qur’an juga ada istilah khimar. Yaitu sejenis tutup kepala yang mana kain berbentuk segi empat lalu dilipat menjadi segi tiga. Seterusnya diletakkan di atas kepala dan diketatkan di bawah dagu atau kita kenal dengan sebutan kerudung. Kerudung memiliki definisi yang hampir sama dengan jilbab. Tapi tidak sama. Jilbab memiliki arti yang lebih luas. Sedangkan Khimar itu (kerudung) hanya tudung yang menutupi kepala hingga dada saja. Sama halnya seperti Jilbab, kerudung ini hukumnya wajib.

Pada hakikatnya, istilah jilbab bukan hanya milik islam saja. Tepatnya kerudung, berbagai macam kaum dengan keyakinan yang berbeda-beda juga mengenakan kerudung. Hanya saja konsepnya berbeda, meskipun diantaranya ada yang mirip bahkan persis. Seperti kerudung menurut ajaran Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Biarawati Budha, Biarawati Ortodok, Biawarawati Katolik dan lain sebagainya. Inilah kemudian yang menjadi dilema terhadap maraknya hijab stylish. Banyak dari mereka produsen busana islami, yang mendesign hijab sedemikian rupa untuk menarik konsumen, tanpa harus memperhatikan hijab yang berdasarkan standar syariat islam, semuanya seakan berujung pada profit oriented.

Salah satu contoh hijab yang trend saat ini adalah memakai kerudung dengan menampakkan bentuk leher, ini merupakan trend kerudung yang menyamai kerudung Biarawati kristian, selain itu ada hijab yang kerudungnya sudah rapi, tapi busana yang dikenakan kebawahnya serba ketat dan condong menampakkan bentuk aurat tubuhnya alias minimalis. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi tentang 2 golongan dari penduduk Neraka yang tidak pernah beliau lihat pada zamannya ternyata benar 2 golongan itu muncul pada zaman ini, yaitu : Pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia. Kedua para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggaklenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya tercium dari perjalanan sekian dan sekian (Lihat Hadits Shohih Muslim No. 2128)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hijab dan khimar mempunyai perbedaan tersendiri, kalau hijab sifatnya umum (menyeluruh) sedengkan kalau khimar khusus (tidak menyeluruh/sebagian). Inilah yang seringkali terjadi salah kaprah dikalangan masyarakat kita saat ini, mereka banyak beranggapan bahwa hijab adalah khimar (kerudung), padahal kenyataannya bukan. Sehingga kemudian banyak dikalangan hijabers yang mengklaim bahwa dengan berkhimar (berkerudung) sudah cukup untuk menghijab dirinya. Trend hijab stylish yang condong minimalis, inilah yang perlu kita koreksi ulang, sehingga para hijabers tidak serta-merta tampil bergaya dan trendy dengan berbagai jenis mode hijab yang ada, tanpa harus memperhatikan hijab yang sebenarnya (versi syariat islam).(*)

dimuat di Buletin KAMAL Edisi 23

Rabu, 30 Oktober 2013

Hikmah di Balik Sabar


Sabar dalam arti yang lumrah dikenal adalah menunjukan keteguhan, ketabahan, keuletan, ketahanan diri dan ketegeran jiwa serta tidak takut kehilangan. Sabar sangat berperan penting dalam kaitannya dengan diri manusia, karena sabar merupakan agent of control dari seluruh tindakan manusia itu sendiri.

Kalau peresensi ibaratkan dengan pacuan kuda, sabar adalah tali pengendalinya, tanpa adanya tali pengendali, besar kemungkinan kuda itu bisa lepas landas, bisa jadi terjerumus dalam jurang, dan tidak hanya kudanya saja yang nyungsep dalam jurang tapi pengemudinya juga ikut terjerumus.

Sementara Tallal Alie Turfe dalam buku ini, menguraikan secara lugas hakikat sabar itu. Menurutnya sabar adalah ketika kita mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat keji dan dosa, ketika mampu menaati semua perintah Allah, ketika mampu memegang teguh akidah islam, dan ketika mampu tabah serta tidak mengeluh atas musibah dan keburukan apapun yang menimpa kita (hal. 31)

Pengertian sabar tersebut menunjukan adanya sebuah metode yang melandasi definisi islam. Selain berkait dengan keimanan, syariat dan keutamaan, sabar juga berkait  erat dengan pemahaman-pemahaman ideologi atau orientasi hidup serta persiapan-persiapan mental. Inilah unsur dinamis yang menyiapkan dan mengarahkan muslim untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Allah memerintahkan pada Nabi Muhammad SAW. Untuk mencapai derajat mulia kesabaran, akhlak dan keutamaan. Dalam perintah-Nya ini Allah senantiasa mengingatkan Nabi-Nya tentang berbagai kesulitan dan penderitaan yang dihadapi oleh para Nabi sebelumnya dalam menyampaikan risalah Allah. Hal ini bertujuan agar beliau bersabar (hal. 46)

Tekad kuat seorang mukmin akan selalu berhadapan dengan berbagai ujian. Ketika ia menguasai dirinya secara lahiriah dan batiniah, sabar akan menjadi cahaya petunjuk imannya. Ia akan memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai cobaan dan ujian dengan pikiran yang terbuka, hati yang lapang dan keyakinan yang tinggi (hal. 55)

Oleh sebab itu, perlunya kita memfokuskan perhatian terhadap unsur-unsur daya. Dalam hidup ini kita membutuhkan resep yang tepat untuk mengubah sikap kita yang kurang dan yang berlebih-lebihan. Sikap ini mencul karena kita tidak mampu mengendalikan daya-daya yang tersimpan dalam diri kita, yaitu intelegensia, marah, hasrat, dan imajinasi. Resep yang tepat untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan adalah sikap sabar. Sebab, sikap inilah yang menjadi fondasi dan sumber daya pribadi dan kesehatan jiwa.

Karena faktanya, kebanyakan orang-orang yang gagal mengendalikan kemarahan berada dalam kekacauan jiwa. Mereka tidak memiliki kesabaran dalam mengontrol emosinya dan amarahnya yang eksplosif. Begitu juga orang-orang yang membutuhkan keberanian untuk menghadapi dan menguasai ketakutannya. Di sinilah kesabaran membentuk sikap kerelaan dan penerimaan, atau tegasnya, kepasrahan diri sebagaimana yang dialami oleh kaum miskin korban kapitalisasi (ha. 115)

Diriwatkan bahwa suatu saat Nabi Saw. Bertanya kepada beberapa sahabat tentang derajat keimanan mereka. Lalu, mereka menjawab bahwa diri mereka telah berada dalam tingkat kesabaran untuk menghadapi segala ujian, senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, dan menerima apa pun yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah dan kekuasaan-Nya. Sejak itulah , Nabi Saw. Menyebut mereka sebagai orang-orang yang bijak (hukama’) dan berpengetuan (alimun).

Maka dari itu, kita mesti berusaha keras untuk membentuk karakter kepribadian yang berkualitas. Inilah modal utama yang menegaskan keutamaan sabar sesuai karakter-karakter pilihan. Sebagaimana disebutkan dalam buku ini, yang tidak mesti berurutan. Namun semuanya terkait dan saling mendukung satu sama lain. Sebagai contoh, ketika menjadi mukmin yang suci, Anda mesti kontinu shalat, sedekah dan memperhatikan orang lain. Itulah sebabnya karakter-karakter pilihan menjadi fondasi dalam pembentukan pribadi islami. (hal. 154)

Potret Nabi Ayyub a.s. merupakan teladan kesabaran dan ketabahan yang utama. Dia mampu mengendalikan emosi, kekecewaan, dan kemarahannya. Dia juga mampu mengendalikan pikirannya sehingga tetap bersabar dalam mengahadapi ujian serta bersikap patuh pada kehendak Tuhan. Inilah contoh positif  bagi kebijakan yang sempurna serta sikap rendah hati dan kesyukuran atas nikmat Allah. (hal. 156-160)

Buku ini sangat layak sekali dijadikan pedoman hidup, karena di dalamnya terdapat pemabahasan yang cukup mendalam tentang kesabaran, yang meliputi: sabar dalam perspektif islam, sabar dan akidah islam, sabar dalam syariat islam, filsafat sabar, sabar dan psikologi sosial, teladan-teladan kesabaran dan kepemimpinan islam: teladan kesabaran, semua itu, penulis uraikan dengan menggunakan bahasa yang mengalir dan lugas sehingga pembaca tidak akan pernah merasakan kesulitan dalam memahaminya, serta dilengkapi dengan bagan-bagan dari setiap pokok pembahasan yang terdapat didalamnya.
_____________________________
Judul               : Mukjizat Sabar
Penulis             : Tallal Alie Turfe
Penerbit           : PT Mizan Pustaka
Cetakan           : II, Juni 2013
Tebal                : 276 halaman
ISBN                : 978-602-9255-60-7
Peresensi         : Umar Faruk Fazhay, Mahasiswa Ekonomi Syariah IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo.


  dimuat dirimanews.com 31 Oktober 2013

Jumat, 11 Oktober 2013

Pudarnya Budaya Tafaqquh Fiddin

















Sebelum melangkah lebih jauh, pada pokok kajian alangkah baiknya jika memahami pengertian pesantren terlebih dahulu. Mungkin kemudian timbul sebuah pertanyaan dibenak pembaca yang budiman. Apa hubungannya pesantren dan tafaqquh fiddin?. Perlu kita ketahui bersama bahwa istilah tafaqquh fiddin pertama kali dipopulerkan oleh kalangan pesantren.

Pesantren pada mulanya adalah sebuah lembaga pendidikan yang dijadikan sebuah wadah untuk memahami, memperdalam dan mengembangkan ajaran-ajaran keislaman (tafaqquh fiddin). Pesantren pertama kali dirintis oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 M yang berfokus pada penyebaran agama islam di Jawa. Selanjutnya tokoh yang berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel). Pesantren pertama didirikan di Kembangkuning, yang waktu itu hanya dihuni oleh tiga orang santri, yaitu Wiryo Suroyo, Abu Hurairah, dan Kyai Bangkuning. Melalui lembaga pesantren inilah kemudian Raden Rahmat membagikan wawasan keislamannya, sehingga kemudian berhasil menelurkan santri yang tafaqquh fiddin dan mampu mendirikan pesantren sendiri.

Ada beberapa keunikan yang sifatnya eksotis yang harus kita pengang teguh bersama. Yaitu tentang sebuah istilah pengajar, pelajar dan modul dalam pesantren. Hal serupa tapi tidak bisa di serupakan, hal sama tapi tidak bisa disamakan dengan lembaga pendidikan lainnya. Di pesantren kita mengenal santri, kyai dan kitab yang tentu tidak bisa kita samakan secara mutlak, dengan yang namanya murid, guru dan buku. Karena memiliki filosofi tersendiri, meskipun hakikatnya sama.

Sedangkan tafaqquh fiddin itu sendiri adalah paham (memperdalam) ilmu agama, namun belakangan ini tafaqquh fiddin dirasa mulai memudar di kalangan pesantren. Sebagaimana pernah di sampaikan oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ace Saifuddin pada tanggal 22 Juli 2013 lalu, Dalam sebuah forum yang diadakan oleh KEMENAG yang membahas tafaqquh fiddin pesantren.Dalam forum yang dihadiri oleh 120 kyai dan pengasuh pondok pesantren itu, beliau menuturkan bahwa pesantren sekarang dirasa mengalami degradasi kualitas akademik dalam menjalankan perannya sebagai lembaga “tafaqquh fiddin”.

Menurut analisis penulis, ada beberapa faktor yang melatar belakangi degradasi kualitas akademik pesantren sebagai lembaga “tafaqquh fiddin”. Pertama adalah mendominasinya mata pelajaran yang tidak se-arah dengan tujuan tafaqquh fiddin. Kedua metode pembelajaran yang tidak inovatif atau cendrung monoton. Ketiga keberadaan pendidik yang kurang mengusai pada materi sehingga kemudian, materi yang sebenarnya mudah dan cepat dipahami berubah menjadi sukar dan sulit dipahami.

Meskipun realitasnya, memberi pemahaman ilmu agama di zaman yang edan ini sangat sukar sekali. Apalagi bagi mereka para santri khususnya dan pelajar umumnya yang sudah kadung terpengaruh oleh budaya instan, tidak mau larut dalam proses atau karena sudah terlanjur mendalami ilmu pengetahuan lainnya (yang tidak langsung menjurus pada tafaqquh fiddin). Hal ini merupakan tantangan yang sangat besar bagi para Kyai dan Ustadz. Maka dari itu, perlunya langkah krearif dan inovatif, baik itu dari segi modul yang disajikan ataupun metode pengajaran. Untuk memancing kembali semangat dalam ber-tafaqquh fiddin.

Ajaran islam yang bersumber dari al-Qur’an, Hadist serta kitab klasik maupun kontemporer merupakan sesuatu yang sangat sulit di pahami dibandingkan dengan buku terjemahan yang sifatnya instan dan terbuka. Selain membutuhkan pengetahuan yang mempuni dalam bidang gramatika bahasa Arab (nahwu dan sorrof) sebagai keyword-nya, juga dituntut memahami budaya mereka (orang Arab) untuk memberikan pemahaman yang sempurna.

Oleh karena itu, para kyai dan ustadz yang tanggap akan kondisi yang sedang menimpa para santri saat ini. Maka mereka akan mencarikan alternatif dan solusi untuk mempertahankan dan melestarikan kajian-kajian keislaman yang bersumber dari karya ulama salaf, sehingga kemudian dari mereka banyak menciptakan metode baru yang sangat relevan, mendukung dan cocok untuk diajarkan kepada para santrinya. Seperti metode cepat belajar tahwid, metode cepat membaca al-Qur’an, metode cepat belajar gramatika Arab, Metode cepat membaca kitab, serta metode cepat menghafalkan nadzam-nadzan sampai dengan metode cepat menghafal al-Qur’an. Langkah-langkah solutif seperti inilah yang kemudian banyak dilirik, diperhatikan dan diikuti oleh para santri yang menimba ilmu dalam pesantren, terlebih bagi para santri yang ikut andil dalam mempertahankan dan menyengarkan kembali momentum tafaqquh fiddin yang selama ini dirasa mulai meredup.

Selain itu mendalami ilmu agama, adalah suatu perjuangan atau bisa dikatakan jihad yang sangat besar sekali sebagaimana disampaikan Al-Qudamiy “Sesungguhnya mempelajari ilmu dan mendalami agama adalah jihad (perang) yang besar.” Jihad melawan rasa rindu, Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan rasa minder (konservatif), jihad melawan rasa lapar, dan jihad yang lainnya yang kerap kali mendera para santri yang berusaha mendapatkan pusaka tafaqquh fiddin.

Selain metode dan penyampaian materi pembelajaran yang efektif, perlu juga memberikan motivasi atau stimulasi bagi para santri untuk selalu bersemangat dalam bertafaqquh fiddin. Karena belakangan ini dirasa sudah banyak  sekali yang mengesampingkan motivasi tersebut, padahal mamfaat dibalik motivasi tersebut sangat besar sekali. Dengan adanya motivasi suatu yang sifatnya mustahil bisa jadi mungkin dan bisa di capai. Dalam hal ini kreatifitas seorang pendidik diperlukan sekali terlebih ketika berada didalam kelas, sehingga kemudian kelas tersebut bisa menjadi hidup.

Ketika semua elemen tersebut sudah terpenuhi, barulah kemudian membangun budaya tafaqquh fiddin, sebagaimana budaya akademisi yang lumrah dikenal dalam perguruan tinggi. Disinilah yang sangat sulit sekali, apalagi  budaya tersebut sudah terkikis digantikan budaya yang sifatnya glamor. Menyegarkan kembali budaya lama (tafaqquh fiddin) di tengah semaraknya budaya baru membutuhkan tantangan yang sangat besar sekali. Karena membutuhkan kebersamaan, saling melengkapi, tidak saling menyalahi satu sama lain, serta saling tegur sapa ketika ada yang salah dengan tetap menggunakan etika dan tatakramah.

Barulah kemudian, menggemakan ke seluruh penjuru dunia. Mengatakan pada dunia bahwa budaya tafaqquh fiddin adalah budaya peninggalan leluhur kita semua umat islam. Budaya para nabi, budaya para rasul, budaya para sahabat, budaya para tabi’in, budaya para ulama salaf, budaya para kyai, budaya para ustad serta budaya para santri. Budaya inilah yang akan mengantarkan kita semua pada kesuksesan dunia dan di akhirat kelak. Semoga!. 

dimuat di buletin KAMAL edisi 22









Kamis, 26 September 2013

Krisis Moral dan Krisis Keteladanan

Moral para remaja saat ini sudah berada di bawah titik mengkawatirkan. Ini merata di setiap daerah dalam Republik Indonesia. Bahkan, warga seperti sudah merasa “biasa” dengan tingkah laku seperti tawuran, narkoba, perncurian, dan pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan.(kompasiana.com/2013/04/30/).

Banyak hal yang melatar belakangi degradasi moral remaja bangsa ini, salah satunya adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan yang berbau kenegaraan dan keagamaan, buktinya dari beberapa pelaksanaan ujian nasional yang telah berlalu tidak ada yang namanya mata pelajaran PKN dan Agama yang di UN-kan. Yang mana pelajaran terserbut sangat urgen dan membantu sekali terhadap perbaikkan moral remaja.

Selain itu marakanya sinetron remaja, film beradegan zina,  penyalahangunaan narkoba dan tindak kriminal merupakan ancaman besar bagi masa depan remaja bangsa ini di masa yang akan datang, karena dari beberapa tontonan atau hiburan yang ada disana tidak ada yang menggambarkan terhadap perbaikan moral malah tontonan tersebut, justru merusak moral baik dari segi busana, adekan dan pergaulan. apalagi saat ini di dukung dengan banyaknya teknologi especially gadget yang sangat murah meriah yang sudah terhubung ke internet yang kerapkali di salahgunakan sehingga akhirnya berujung pada tindak kriminal.

Menurut Sigmund Freud, sebab-sebab kejahatan dan keabnormalan adalah karena pertempuran batin yang serius antara ketiga proses jiwa (Id, Ego, Superego) sehingga menimbulkan hilangnya keseimbangan dalam pribadi tersebut. Ketidak seimbangan itu menjurus pada perbuatan kriminal sebab fungsi Ego untuk mengatur dan memcahkan persoalan secara logis menjadi lemah (Mulyono, 1995).

Persoalan lain yang di hadapi bangsa ini adalah krisis keteladanan, banyaknya elit politik atau politisi, penguasa, pembesar dan pemimpin bangsa ini yang terjaring dalam kasus korupsi dan skandal seks, membuat nama bangsa ini semakin tercoreng di mata masyarakat. Sehingga kemudian para remaja pun banyak yang salah memilih teladan, meraka banyak yang mengidolakan para artis yang jelas-jelas sudah tidak pantas untuk dijadikan idola atau teladan.

Fenomena inilah yang melatar belakangi penulis, untuk menguak kembali, akan peran dan fungsi elit politik, pemimpin  dan penguasa sebagai sosok teladan di tengah hiruk-pikuk dunia perpolitikan. Kondisi konsumsi masyarakat yang tidak seimbang dalam melihat kondisi bangsa melalui media inilah yang menjadi problem. Kesan yang ditampilkan seolah bangsa ini miskin teladan. Organ-organ kebangsaan dan keagamaan makin kehilangan tempat di hati masyarakat. LSM baik lokal dan Internasional makin terpojok dalam aksi sosial masyarakat. Ekonomi dan sistem keamanannya makin semrawut, kurang dalam fokusnya.

Tokoh-tokoh yang hari ini di dominasi oleh elit politik menjadikan iklim masyarakat madani tidak seimbang yang berefek pada ketidakharmonisan antar individu. Inilah yang menjadikan imbas utama bagi kita, yang mungkin akan terus berlanjut hingga muaknya rakyat, seperti muaknya pada era 2004 terhadap janji-janji wakilnya di parlemen. Meski realitasnya masih banyak tokoh-tokoh yang menaungi bangsa ini. Masih banyak tokoh-tokoh sepuh, seperti Mustofa bisri, MH Ainun Najdib, Azyumardi azra, Syafii maarif, Dahlan Iskan dan Mahfud MD yang masih getol dalam membangun masyarakat madani.

Mengaca pada kejadian-kejadian yang berujung dengan ironis, maka perlu kiranya kita memulai dari diri sendiri atau ibda’ binapsik yaitu dengan memulai perbaikkan dari lingkungan keluarga, masyarakat sekitar baru kemudian masyarakat umum yang meliputi semua elemen bangsa Indonesia. Ketika evaluasi yang lingkupnya mikro sudah benar-benar di galakkan maka dalam lingkup makropun insyallah akan bisa ditularkan, sehingga kemudian terbentuklah sebuah good governance dan masyarakat madani yang saling melengkapi.

Dari situlah nantinya akan lahir, pemuda dan pemudi harapan bangsa. Pemuda dan pemudi Indonesia, yang pernah dulu diminta oleh bung karno sang proklamator kemerdekaan Indonesia.“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia”. Maka dari itu perlu kita refleksikan kembali kalimat tersebut, betapa pentingnya sosok pemuda yang multi talenta dimasa depan, kemudian tanpa evaluasi atau pemulihan kembali moral remaja yang sedang kenak penyakit kronis atau sedang kritis ini, mampukah kita mengguncang dunia?.(*)
_________________________
* Mahasiswa IAI. Nurul Jadid Paiton Probolinggo

dimuat di rimanews.com
 

Minggu, 22 September 2013

Menyelami Ajaran Makrifat Kesunyatan Syekh Siti Jenar


Berbicara Syekh Siti Jenar tentu bukan barang yang baru di benak pembaca yang budiman. Syekh Siti Jenar merupakan salah satu dari wali kesepuluh diantara yang lumrah dikenal dikalangan masyarakat dengan sebutan Wali Songo. Sedangkan ajarannya yang paling mashur adalah Manunggaling Kawula klawan Gusti. Ketidak stabilan ajaran yang dibawa dengan realitas atau masyarakat awam sehingga membuat Syekh Siti Jenar harus menjemput ajalnya.

Namun ketika menilik kembali ajaran yang dibawa oleh Syekh Siti Jenar telebih tentang ajaran makrifatul Ilah. Hal itu merupakan fenomena yang luar biasa, yang mungkin ada beberapa perbedaan konsep dan pradigma dari beberapa ajaran Syekh dan para wali Allah lainnya.

Achmad Chadjim dalam buku ini, memaparkan panjang lebar tentang hakikat makrifat kesunyatan (kebenaran/apa adanya), yang merupakan sambungan dari pada buku satu dan dua yang pernah di tulisnya. Adapun intisari yang terdapat dalam buku makrifat kesunyatan ini adalah sebagai berikut:

Seseorang yang sudah makrifat justru merasa tidak mengetahui apa-apa, tetapi hasilnya adalah apa-apa yang dapat menjadi petunjuk baik bagi dirinya maupun orang lain. Makrifat yang arti sebenarnya “orang yang tahu” atau orang yang memiliki pengetahuan, justru dalam kenyataan dia adalah orang yang tidak tahu apa-apa. Ia seperti alat yang tidak tahu dirinya alat, tetapi ia berguna bagi siapa yang membutuhkan kehadirannya. Ia tampak seperti manusia biasa lainnya, yang bisa hadir sebagai pemimpin, pegawai, buruh, pedagang, petani, ataupun prajurit yang siap bertempur di medan pertempuran. (hal. 51)

Jiwa bisa menjadi tenang bilamana badan wadag sebagai wadahnya dilatih untuk dapat membuat semua indra menjadi patuh pada sang jiwa. Namun, dalam kenyataannya jiwa justru lebih banyak terpengaruh oleh pancaindra (indra penglihat, pembau, pendengar, perasa di lidah, dan perasaan dikulit) dan tri-indra (pikiran, imanjinasi atau angan-angan dan keinginan). Jadi, kita harus dapat membuat pancaindra dan tri-indra menjadi heneng (diam) dan hening (jernih, bening), agar kita bisa hidup secara lawas (awas) dan heling (eling, sadar). (hal. 73)

Tubuh fisik ini hendaknya tidak digunakan untuk membuat yang sia-sia. Tubuh fisik ini hendaknya tidak digunakan untuk berbuat atau bertindak yang tidak dilandasi pengetahuan yang benar. Jika kita beribadah ritual, maka kita harus memiliki pengetahuan tentang ibadah yang kita lakukan-dan bukan katanya. Kalau kita berpuasa Ramadan, kita harus mengetahui dengan benar tantang kegunaan dan tujuan puasa tersebut, dan bukan kerana puasa itu kewajiban agama. Islam tidak mengajarkan keberhalaan. (hal. 95)

Tuhan tidak pernah membuat kejahatan. Tetapi, cara kerja alam untuk mempertahankan eksistensinya dapat menimbulkan efek samping yang berupa kejahatan terhadap makhluk lain yang berada disekitarnya. Curah hujan yang lebat bisa menimbulkan banjir. Tetapi, air hujan diperlukan oleh makhluk hidup yang hadir dikawasan yang tersiram air hujan. Bila kita tidak pandai mengelola air hujan yang berlimpah, maka petaka akan menimpa kita. Itulah sebabnya, dalam Alquran dinyatakan dengan tegas bahwa semua yang baik dari Allah. (hal. 139)..

Segala jeratan dunia harus kita lepaskan agar hidup ini nyaman dan selamat. Ketika kita melepaskan nyawa, maka kita sudah terbebas dari aneka jeratan dunia. Kita tak perlu was-was, ragu-ragu, dalam perjalanan jiwa kita. Bukankah dengan membebaskan diri dari jeratan dunia itu untuk mencapai tujuan yang mulia? Benar! Bila kita bisa hidup lahir dan batin sama pasti kita akan sampai tujuan, yaitu kembali kepada tuhan semesta alam. Kita sejatinya bukanlah bagian dari dunia, tetapi kita adakag khalifah-Nya. (hal. 183).

Manusia harus realistik dalam menjalani hidup di dunia ini. Ia harus berusaha untuk tidak tertipu oleh heksa-indranya (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, perasa, dab nafsu seksual) dan oleh tri-indranya (pikiran, angan-angan dan keinginan). Indra, pikiran, angan-angan, dan keinginan dapat menipu kita. Oleh karena itu, manusia harus meniti ke dalam dirinya, mengetahui rahasia dirinya, dan akhirnya berusaha memahami makna kematian dirinya di dunia ini. Itulah yang di tegaskan oleh Syekh Siti Jenar. (hal. 271).

Khusuk arti sebenarnya adalah gersang atau tandus. Jadi, orang yang khusuk adalah orang yang steril dari berbagai macam keinginan atau aktivitas pikiran. Orang jawa menyebutnya hati dan pikirannya lerem. Sedangkan daim artinya tak pernah berhenti, maka orang yang salat makrifat berarti orang yang tidak pernah putus kesadaran terhadap Tuhannya. (hal. 295).

Buku ini sangat penting sekali dibaca oleh seluruh umat islam, karena didalamnya dijabarkan secara panjang lebar hakikat islam, Nur Muhammad, kiamat, Adam, jin, hantu dan setan, makna dunia dan akhirat, makna surga dan neraka dan hakikat salat, zakat dan haji. Hal ini merupakan oase bagi mereka (umat islam) yang tergolong taqlik (ikut tanpa mengetahui dasar/sekedar katanya saja), sehingga kemudian menjadi umat islam yang  itba’ (ikut dengan mengetahui landasan atau dasarnya). Dengan harapan, agar semua amal ibadah yang kita kerjakan lebih bermakna, dan bukan hanya sekedar ritual belaka.(*).
_____________________________________________
Judul buku       : Syekh Siti Jenar (makrifat Kesunyatan)        
Penulis              : Achmad Chodjim
Penerbit           : PT Serambi Ilmu Semesta
Tahun Terbit    : Maret 2013
Tebal               : 352 hlm           
ISBN               : 978-979-024-344-6
Peresensi           : Umar Faruk Fazhay

dimuat di rimanews (22 September 2013)


Rabu, 28 Agustus 2013

Perjalanan Menuju Pon. Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan


Perjalanan menuju pesantren merupakan hal yang lumrah, terlebih bagi santri aktif atau alumni, ada kekhasan tersendiri bagi setiap pesantrennya. Dengan berjalan menuju pesantren pasti kita akan mendapatkan hal-hal yang baru, seperti bisa kembali bertemu dengan teman lama bagi alumni, serta bisa melihat perkembangan pesantren itu sendiri dengan lebih dekat lagi yakni dengan mata telanjang.

Namun tidak bagi santri aktif kebanyakan, karena berjalan menuju pesantren (balik pondok) merupakan berjalan menuju tahanan, begitulah pradigma salah kaprah yang sering aku dapatkan semenjak menjadi santri aktif dulu, selain itu ada lagi slogan yang sering di lontarkan oleh para santri aktif yakni “penjara suci” padahal realitasnya pesantren itu bukanlah penjara atau pun tempat kurungan.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan, yang menjurus pada perbaikan moralitas anak didiknya dan penguasaan ilmu keagamaan, meski realitasnya masih ada sebagian pelajar yang menempuh pendidikan di pesantren yang tidak mendalami bidang ilmu agama itu sendiri. Selain itu perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin canggih ini, telah melahirkan dua corak mode pesantren, yang pertama yaitu: pesantren konvensional(salaf) yang kedua yaitu: pesantren modern.

Ada beberapa keunikan yang dimiliki lembaga pendidikan yang bernama pesantren yang mungkin tidak di miliki oleh lembaga pendidikan lainnya, yakni istilah kyai, santri dan kitab. Tentu ketiga variansi dari ketiga elemen itu, tidak bisa kita samakan dengan yang namanya guru, murid dan buku. Karena memang ada keunggulan tersendiri yang tentu penulis tidak bisa menjelaskan panjang lebar dalam pengantar serial catatan ini.

Pokoknya perjalanan menuju pesantren merupakan momen yang tidak bisa dibandingkan dengan berjalan pada tempat wisata lainnya, meski kenyataan pesantren memang bukan tempat wisata. Namun yang perlu diketahui oleh pembaca yang budiman adalah antara satu pesantren dengan pesantren yang lainnya pasti mempunyai keunikan tersendiri.

Jejak di Pon. Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, setelah menahan sesak pandangan  dari spanduk Caleg, Cagub dan iklan-iklan yang juga meramaikan dan memenuhi trotoar kota Pamekasan, setelah terbebas dari kemacetan pasar 17 Agustus Pamekasan, akhirnya aku pun sampai juga di barisan dalam keadaan macet panjang, tepatnya di pintu masuk menuju Pon. Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata.
Penjemputan guru tugas (GT) kali ini memang luar biasa sekali, karena tidak hanya itu, pada waktu itu juga ada sebagain santri aktif yang baru balik pondok, juga wali santri yang ingin memondokan anaknya. Sehingga volume pengunjung saat itu membludak yaitu dari barisan sampai pada lapangan depan kantor pesantren tidak putus-putus, membanjiri ruas-ruas jalan, ada yang berkendaraan ada juga yang memarkir kendaraanya di barisan lantas berjalan kaki.

Beberapa menit kemudian mobil kijang yang aku tumpangi, akhirnya sampai juga di tempat parkir, yaitu di parkir di depan kartor Madrasan Tsanawiyah Mambaul Ulum Bata-Bata (MTs MUBA), aku pun melanjutkan perjalanan menuju pondok dengan berjalan kaki dari Madrasah Barat, melewati ruas-ruas jalan yang sesak dengan orang-orang yang berlalu –lalang, di depan tempat pemanggilan aku bertemu dengan Ali wafa dan Bahrudin, setelah berbincang-bincang sebentar dengan mereka berdua aku melanjutkan perjalanan.

Setelah sampai di congkop (tempat pendiri dan sesepuh PP. MUBA di semayamkan), aku mengambil wudhu’ kemudian melaksanakan shalat dhuha disana, sesudah shalat dhuha, bapak menelponku untuk segera menghadapnya dan kemudian bersama-sama berjalan menuju pandepah (pendopo) untuk acabis (sawun) pada beliau, sekaligus pamitan untuk boyong dari pondok.

Rupanya tidak hanya di jalannya raya saja, pandepah pun juga sesak dan penuh dengan tamu. Sesudah bapak, aku dan adekku acabis dan mator pada RKH. Hasan Abd Hamid yang ketetapan pada saat itu menemui disana. Aku pun kembali pada congkop membaca yasin dan tahlil, baru kemudian menuju BBEC (Bata-Bata English Centre). BBEC merupakan sebuah lembaga pengembangan bahasa Inggris yang dulunya di kenal dengan LPBI, dalam perjalanan menuju BBEC aku kembali bertemu dengan seorang temanku yang bernama Ismail, setelah berbincang-bincang sebentar dan meminta nomer HP-ku, aku pun melanjutkan perjalanan.

Setibanya di BBEC aku bertemu dengan Wahyudi, Farhan dan seorang tutor baru yang belum pernah ku kenal sebelumnya, maklum aku sudah 2 tahun lebih lamanya aku keluar dari lembaga itu, waktu yang cukup relatif lama, banyak wajah-wajah baru yang tidak ku kenal disana. Kemudian datanglah Hamid dan Hamdi seorang murid dari tugasanku dulu yang sekarang juga mondok di Pon. Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata. Lalu datanglah Bayen dan Aziz yang merupakan rekanku dulu waktu menjabat sebagai official di BBEC ini.   

Ada beberapa pesan yang di sampaikan oleh Bayen dalam pertemuanku itu yang di kutip dari pesan RKH. Hasan Abd Hamid kepadanya, ketika dia pamit untuk boyong kemaren. Beliau berpesan untuk selalu melaksanak kewajiban shalat fardhu dan menjaga nama baik al-mamater pesantren, sekalipun sudah keluar dari pesantren. Yang membuatku bulu kudukku sedikit merinding adalah ketika Bayen mengajukan, semacam harapan dan permintaan kepada beliau untuk diakui sebagai muridnya, nanti pada hari kiamat. Apa dawuh beliau?, beliau hanya menitip pesan untuk jangan sampai lupa melaksanakan shalat fardhu dan menjaga nama baik al-mamater. 

Tidak lama kemudian, dari perbincangan yang sifatnya serius sampai pada yang cuman sekedar canda dan tawa, akhirnya datanglah Mr. Hafidurrahman, beliau adalah adalah Director kedua BBEC sesudah yang pertama Mr. Qomaruddin, beliau berasal dari Camplong Sampang, Namun sekarang sedang menempuh S-2 Prodi Bahasa Inggris disalah satu perguruan tinggi di kota Malang, pertemuan yang sangat mengesankan, mengingatkanku kembali pada kenangan masalalu  yang penuh dengan tangis dan canda tawa.

Aku pun sempat menanyakan perkembangan BBEC, rupanya memang ada sedikit perkembangan, tidak hanya di putra saja yang ada markas bahasa inggrisnya, tapi di putri juga sekarang katanya ada markasnya juga, yang di kenal dengan sebutan BBEC Female. Sebenarnya dulu masaku juga ada, tapi belum di wadahi dalam lembaga khusus cuman sekedar kursusan saja, dan Mr. Hafidz pun menuturkan  bahwa akhir-akhir ini beliau juga tidak begitu aktif di BBEC, terhitung semenjak melanjutkan prodi S-2-Nya.

Selang beberapa menit kemudian datanglah Suliyadi dan Hudaifi dengan Penanggung Jawab Guru Tugasnya (PJGT), dan orang tua sualiyadi sendiri pun ikut menyertai,  aku tidak menyangka bahwa Suliyadi akan di tugas di dekat rumahku, yakni satu desa tapi cuman lain kampung. Sesudah Suliyadi, Hudaifi berangkat. Mr. Hafid pun pergi keluar katanya mau mengunjungi anak buahnya Hatip yang juga di tugas tahun ini.

Baru kemudian aku melanjutkan percakapan dengan Hamdi dan Hamid, dan menanyakan pada mereka tentang teman-teman yang lainnya, dia berkata padaku bahwa teman-teman yang lain ada disini alias di BBEC, dan kemudian Hamid menyuruh Hamdi untuk memanggil Herman, Holil dan Rifadi di kamar BBEC itu, lantas menyuruh dan mengajak mereka menemuiku disini di kantor BBEC ini.

Kemudian datanglah Rifadi dan Herman, cuman Holil yang tidak ada waktu itu, mungkin sedang berada di daerah (blok)-nya. Setelah larut dalam percakapan yang dalam akhirnya Hamid dan Hamdi pamitan untuk kembali ke pondoknya untuk menemui, guru tugas yang baru yang juga kebetulan satu daerah dengan dia, cuman sekarang agak begitu jauh ketimbang rumahku dan rumah Hamid, yang sama dari Sampang, sedangkan rumah guru tugas yang baru yang menggantikan Hamid itu dari Bangkalan.

Setelah Hamid dan Hamdi sudah pergi, baru kemudian Holil datang. Rupanya dari tadi dia ada di pondok katanya, beberapa menit kemudian bapak menelponku menyuruhku untuk segera keluar, aku pun segera meminjam HP-Nya Aziz, yang kebetulan pakek kartu XL, baru kemudian menelpon wahyudi, menyuruh dia untuk segera ke BBEC, tidak lama kemudian dia pun datang menemuiku di kantor BBEC itu lagi, kemudian aku pun membayar uang buku yang aku beli.

Aku pun berencana untuk meng-copy data, namun lagi-lagi kapasitas memory yang ku miliki tidak mendunkung alias full.  kemudian aku bertanya kaset CD/DVD pada Wahyudi dia menjawab ada tapi, lagi-lagi CD Room Laptopnya rusak. Jadi aku pun tidak bisa membakar data itu pada kaset. Untunglah kemudian aku bisa pinjam flashdisk wahyudi lantas aku pun segera meng-copy data yang  ku inginkan itu.

Sambil lalu aku meng-copy data itu, aku pun mengambil wudhu’ ke congkop, dan meminta Holil untuk menjaganya, sehabis mengambil wudhu’ dari congkop aku pun kembali lagi ke kantor BBEC, dan disana aku dapati Mr. Sulhan, seorang teacher yang dulu juga pintar dalam segi kaligrafinya.

Aku meminta idzin padanya, untuk melaksanakan shalat dhuhur, shalat dhuhurku kali ini memang amburadul alias tidak khusuk sekali, lantas teacherku itu menegurnya, setelah melaksanakan shalat dhuhur rupaya bapak menelponku kembali, menyuruhku untuk segera keluar, aku pun meminta beliau untuk menunggu sebentar. Menunggu selesainya data yang aku copy itu, sambil lalu menunggu selesainya data yang ku copy, akupun berbincang-bincang dengan Mr. Sulhan, menanyakan prihal kehidupan dan keluarganya.

Setelah data yang ku copy selesai, akhirnya aku pun berpamitan pada anak-anak BBEC yang tersisa disana, begitupun dengan Holil. Kemudian aku berjalan secepat mungkin menerobos orang-orang yang memenuhi ruas jalan. Melewati jalan pintas yaitu berjalan dari timur pondok kecil melewati jembatan yang terhubung ke takhassus dan menyebrang lewat tepi sawah, kemudian sampailah di timur jembatan. Lalu menelpon bapak, seraya berkata bahwa aku menunggunya di timur jembatan. 

Kemudian baru menuju jalan pulang, namun dalam perjalanan menuju pulang kita masih berhenti di salah satu masjid di daerah Camplong, kemudian melaksanakan shalat dhuhur lagi disana. Aku pun juga mengulangi kembali, shalat dhuhurku yang kurasa belum sah itu, aku mengulanginya dengan shalat berjamaah. Serta sebagian dari kami ada juga yang membeli ikan, kebetulan di samping masjid itu ada banyak orang yang menjual ikan segar hasil tangkapan nelayan, suasana yang beda shalat di tempat ibadah atau masjid ini, memberikan kesan tersendiri di dalamnya. Setelah semuanya benar-benar selesai, aku pun kembali menuju jalan pulang yang sesungguhnya. Catatan perjalanan pada tanggal 25 Agustus 2013.  

 *Serial Catatan dari Pulau Sebrang